By :Amalia Fauziah
Membangun Karakter dari Keluarga
Pembangunan karakter merupakan tugas dari generasi ke generasi karena membangun karakter berarti membangun seseorang dari dasar dirinya. Bisa dikatakan bahwa membangun karakter layaknya membangun seseorang dari benih awal. Tidak mungkin terjadi ala sulap yang bimsalabim, memerlukan waktu yang panjang dan penuh kegigihan. Megawangi (2004) mengatakan bahwa kata karakter berasal dari kata Yunani, charassein yang berarti mengukir sehingga terbentuk sebuah pola. Sementara itu Wynne mengatakan bahwa terdapat dua pengertian tentang karakter. Pertama adalah menunjukkan bagaimana seseorang bertingkah laku. Sebagai contoh apabila seseorang berperilaku tidak jujur, kejam, atau rakus maka, orang tersebut memanifestasikan karakter jelek. Sebaliknya apabila seseorang berperilaku jujur, suka menolong maka, orang tersebut memanifestasikan karakter mulia. Kedua, istilah karakter erat kaitannya dengan ”personality”. Seseorang bisa dikatakan sebagai orang yang memiliki karakter baik atau buruk sesuai dengan kepribadian yang ditampilkannya (Desiningrum, 2011).
Keluarga merupakan mikrosistem pertama seorang manusia. Lingkungan yang berinteraksi pertama kali sehingga tentu saja kondisi yang pertama kali mempengaruhi manusia dan membentuk karakter dasarnya. Karakter yang muncul dari keluarga akan membentuk pribadi. Pribadi-pribadi yang hebat akan membangun karakter negara yang hebat dan tentunya menjadikan negara yang hebat. Individu dalam mikrosistem akan mempengaruhi makrosistemnya.
“Mengapa keluarga dapat dikatakan sebagai batu pertama untuk membangun Negara?,” demikian Husain Muhammad Yusuf (1992) mengawali pembahasan tentang posisi keluarga dalam negara. Sebab, sejauh mana keluarga dalam suatu negara memiliki kekuatan dan ditegakkan pada landasan nilai, maka sejauh itu pula negara tersebut memiliki kemuliaan dan gambaran moralitas dalam masyarakatnya (Takariawan, 2000).
Tak pelak bahwa nilai yang ditanamkan keluarga pada individu mempengaruhi secara signifikan karakter dirinya dan menjadi gambaran umum moralitas masyarakat dalam sebuah negara. Nilai dalam keluarga adalah sampel nilai dalam sebuah masyarakat.
Sakinah, Mawaddah, Warahmah
Menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah adalah dambaan setiap keluarga. Menjadi ucapan dan doa yang sangat lazim dikatakan ketika terdapat sebuah pernikahan. Sakinah, mawaddah, warahmah menjadi sebuah goal setting keluarga. Keluarga dikatakan sukses dan mampu membentuk karakter individu didalamnya ketika keluarga tersebut mencapai goalnya sebagai keluarga sakinah, mawaddah, warahmah. Konyol kiranya ketika doa diucapkan tanpa memahami doa macam apa itu.
Sakinah diambil dari Bahasa Arab yang terdiri dari hruf sin, kaf, dan nun yang mengandung makna ketenangan. Sakinah bukan sekadar apa yang terlihat pada ketenangan lahir melainkan juga ketenangan batin akibat menyatunya pemahaman dan kesucian hati. Mawaddah adalah kelapangan dada dan kekosongan jiwa dari kehendak buruk. Keluarga dengan mawaddah tidak akan rela anggota keluarganya mendapatkan keburukan. Warahmah merupakan rasa sayang yang merupakan bentuk dari kesetiaan dan kebahagiaan.
Dengan demikian, keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah adalah keluarga yang tenang, saling melindungi dari keburukan, dan penuh rasa sayang. Bisa disebut juga sebagai keluarga ayem tentrem karto raharjo. Keluarga yang tenang, saling memahami, menghargai, dan penuh rasa sayang.
Bolehlah kiranya mengambil sebuah contoh keluarga. Keluarga beda agama yang saling menghargai, saling menyayangi, saling melindungi dari keburukan, dan tenang dari konflik. Sangat tidak sesuai dengan syariat ketika keluarga tersebut dikatakan keluarga Islam. Akan tetapi benar jika keluarga tersebut disebut sebagai keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah karena semua komponennya tercermin dalam keluarga tersebut.
Jika disimpulkan secara sederhana, keluarga yang mengamankan diri dari konflik, baik konflik teknis hingga konflik ideologis, memiliki potensi tinggi untuk menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah tetapi tidak menjadi keluarga Islam. Ini berarti menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah tidak sama dengan menjadi keluarga Islam. Bagaimana mungkin sebuah keluarga mampu membangun karakter Islam ketika keluarga tersebut tidak bisa dikatakan sebagai keluarga Islam.
Peran Keluarga Islam, Peran Keluarga Pejuang
Menjadi keluarga Islam memiliki beberapa konsekuensi. Layaknya menjadi seorang muslim yang harus mengilahkan Allah semata dalam semua aktivitasnya, menjadi keluarga Islam memiliki konsekuensi yang sama. Takariawan (2000) menyebutkan terdapat sepuluh konsekuensi yang menjadi landasan tegaknya keluarga Islam, yakni:
1. Didirikan di Atas Landasan Ibadah
Keluarga Islam harus didirikan dalam rangka beribadah kepada Allah SWT. Artinya sejak pendirian awal keluarga (pemilihan pasangan) landasan yang digunakan haruslah benar karena kebaikan agamanya, bukan jarena rupa, harta, atau keturunan.
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKu." (Ad-Dzariyat : 56)
Ketundukan sejak langkah-langkah awal membangun keluarga menjadi dasar dan pemacu untuk tetap tunduk dalam langkah-langkah selanjutnya sehingga ketika terjadi permasalahan dalam keluarga akan mudah terselesaikan karena landasan utamanya adalah peraturan Allah dan rasulNya.
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKu." (Ad-Dzariyat : 56)
Ketundukan sejak langkah-langkah awal membangun keluarga menjadi dasar dan pemacu untuk tetap tunduk dalam langkah-langkah selanjutnya sehingga ketika terjadi permasalahan dalam keluarga akan mudah terselesaikan karena landasan utamanya adalah peraturan Allah dan rasulNya.
2. Terjadi Internalisasi Nilai-Nilai Islam secara Kaffah
Internalisasi nilai Islam secara kaffah (menyeluruh) harus terjadi dalam diri setiap anggota keluarga sehingga keluarga senantiasa menjaga komitmennya terhadap adab-adab Islam. Ini merupakan peran keluarga sebagai benteng terkuat dan filter terbaik dari lingkungan yang semakin menantang.
"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya Setan itu musuh yang nyata bagimu." (Al-Baqarah : 208)
Oleh karena itu keluarga haruslah memiliki sarana pendidikan yang memadai agar proses belajar, menyerap nilai dan ilmu, sampai akhirnya mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Internalisasi Islam yang terus menerus, bertahap dan berkesinambungan hingga karakter Islam dapat ditegakkan.
"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya Setan itu musuh yang nyata bagimu." (Al-Baqarah : 208)
Oleh karena itu keluarga haruslah memiliki sarana pendidikan yang memadai agar proses belajar, menyerap nilai dan ilmu, sampai akhirnya mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Internalisasi Islam yang terus menerus, bertahap dan berkesinambungan hingga karakter Islam dapat ditegakkan.
3. Terdapat Qudwah yang Nyata
Diperlukan keteladanan (qudwah) yang nyata dari sekumpulan adab Islam yang hendak diterapkan. Orang tua memiliki posisi dan peran penting dalam hal ini. Sebelum memerintahkan, orang tua harus memberikan keteladanan sebagai pendidikan awal.
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” QS. As-Shaff:2 – 3
Keteladanan sangat diperlukan karena proses interaksi anak-anak dengan orang tuanya amat dekat. Kondisi praktis akan nampak lebih nyata sehingga ia akan belajar secara jelas dan terinternalisasi dengan baik.
4. Penempatan Posisi Masing-Masing Anggota Keluarga Harus Sesuai dengan Syariat
Posisi dan peran anggota keluarga dalam keluarga yang jelas dan saling menghargai menjadi titik poin yang penting. Iri dan saling tidak menghargai adalah titik poin konflik yang berpotensi menjadi besar.
"Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. Karena bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karuniaNya,. Sungguh Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (Q.S. An-Nisa : 32)
Pemahaman mengenai peran masing-masing anggota keluarga menjadi penting. Tidak saling menuntut dan menyalahkan tetapi saling menghargai dan menyemangati untuk mampu berperan sesuai peran yang dimiliki
"Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. Karena bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karuniaNya,. Sungguh Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (Q.S. An-Nisa : 32)
Pemahaman mengenai peran masing-masing anggota keluarga menjadi penting. Tidak saling menuntut dan menyalahkan tetapi saling menghargai dan menyemangati untuk mampu berperan sesuai peran yang dimiliki
5. Terbiasa Tolong-Menolong dalam Menegakkan Adab-Adab Islam
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah sangat berat siksaNya." (Q.S. Al-Maidah : 2)
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah sangat berat siksaNya." (Q.S. Al-Maidah : 2)
Membentuk keluarga yang baik tentu membutuhkan kerjasama antara anggota keluarga. Kesatuan minat, aktivitas, dan lingkungan yang mendukung akan memudahkan dalam pengaplikasian karakter Islam.
6. Rumah Harus Kondusif bagi Terlaksananya Peraturan Islam
Bangunan rumah yang sesuai dengan kebutuhan dan syariat Islam akan sangat membantu terlaksananya peraturan Islam. Adanya ruang khusus untuk orang tua, ruang khusus anak perempuan dan anak laki-laki. Lingkungan rumah akan mempengaruhi penegakkan aturan dan nilai dalam keluarga.
7. Tercukupinya Kebutuhan Materi secara Wajar
"Dan carilah (pahala) negeru akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan." (Q.S. Al-Qasas : 77)
"Dan carilah (pahala) negeru akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan." (Q.S. Al-Qasas : 77)
Materi, meskipun tidak menjadi tujuan keluarga Islam dan menjadi dasar terbentuknya kelarga, akan tetap mampu menggoyahkan landasannya. Materi yang tidak tercukupi akan memunculkan konflik tersendiri dan mengganggu terbangunnya karakter Islam.
8. Menghindari Hal-Hal yang Tidak Sesuai dengan Semangat Islam
Keluarga Islam seharusnya terhindar dari kemusyrikan ataupun benda-benda yang berhubungan dengan hal tersebut. Benda keramat atau hal sejenisnya harus dijauhkan dari keluarga.
9. Berperan dalam Pembinaan Masyarakat
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk." (Q.S. An-Nahl : 125)
Keluarga Islam berarti keluarga yang mampu memberikan kontribusi terhadap masyarakatnya sehingga karakter Islam tidak hanya terbentuk dalam keluarga tetapi meluas pada masyarakat. keberadaan keluarga Islam mampu membina dan saling meningkatkan kemampuan diri.
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk." (Q.S. An-Nahl : 125)
Keluarga Islam berarti keluarga yang mampu memberikan kontribusi terhadap masyarakatnya sehingga karakter Islam tidak hanya terbentuk dalam keluarga tetapi meluas pada masyarakat. keberadaan keluarga Islam mampu membina dan saling meningkatkan kemampuan diri.
10. Terbentengi dari Pengaruh Lingkungan yang Buruk
Ketika keluarga tidak mampu membina masyarakatnya, yang perlu diwaspadai kemudian adalah membentengi diri dari lingkungan yang buruk. Tidak terwarnai oleh keburukan tetapi mewarnai keburukan dengan kebaikan.
Berjuang adalah Karakter Islam
Keluarga sakinah, mawaddah, warahmah adalah keluarga yang kehidupannya tenang, saling menjaga dari keburukan, dan saling menyayangi sedangkan keluarga Islam adalah keluarga yang berlandaskan atas Islam dan memberikan kontribusi pada masyarakat. Perbedaan jenis keluarga ini tampak nyata ketika muncul sebuah konflik. Keluarga yang memprioritaskan ketenangan akan menjadikan ketenangan sebagai dasar pengambilan keputusan dan cenderung tidak berani membuat konfrontasi. Keluarga Islam akan menyelesaikan konflik bahkan konfrontasi ketika konflik yang muncul menyalahi syariat Islam.
Keluarga yang berani melakukan konfrontasi dan tidak hanya berdasar pada kedamaian inilah disebut Keluarga Pejuang. Keluarga pejuang berarti keluarga yang individu didalamnya berjuang untuk menegakkan syariat Islam sehingga goal setting keluarga bukanlah menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah melainkan menjadi keluarga yang paling bermanfaat bagi masyarakat, anfa’uhum naas yanfa’uhum linnaas.
Ketika kondisi keluarga tidak dapat berada dalam kondisi yang stabil dan normal, individu dalam keluarga dapat memahami hal tersebut dan menyempurnakan peran yang ditinggalkan. Keluarga Fatimah dan Ali bin Abi Thalib misalnya. Ketidakmampuan Ali untuk mencukupi kebutuhan materi keluarga akibat berdakwah dipahami oleh Fatimah sehingga beliau lah yang berusaha memenuhinya. Hasan dan Husain yang tidak tercukupi kebutuhan dasar mampu memahami kondisi orang tuanya karena semua itu perjuangan akan dakwah.
Keluarga pejuang mampu memahami keterbatasan anggota keluarga dalam memahami perannya karena adanya tugas-tugas dakwah, kewajiban-kewajiban yang bertujuan dalam membesarkan Islam meskipun konsekuensinya mengorbankan perannya dalam keluarga. Mindset keluarga pejuang akan memahami hal tersebut, bukannya menjatuhkan melainkan justru menyemangati agar semakin giat berdakwah.
Goal setting keluarga pejuang yang berorientasi pada Islam dan Allah inilah karakter Islam. Kewajiban utama umat Islam untuk beribadah, perintah untuk menyeru pada kebaikan, dan fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) menjadi nilai yang terinternalisasi dalam keluarga karena karakter Islam adalah karakter yang berjuang dan rela berkorban.
"Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benat dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikianlah itulah kemenangan yang agung. (Q.S. At-Taubah : 111)
Karakter Islam adalah karakter yang rela mengorbankan apapun untuk Allah yaitu berjuang. Sehingga keluarga Islam adalah keluarhga yang menginternalisasikan nilai perjuangan. Keluarga Pejuang.
"Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benat dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikianlah itulah kemenangan yang agung. (Q.S. At-Taubah : 111)
Karakter Islam adalah karakter yang rela mengorbankan apapun untuk Allah yaitu berjuang. Sehingga keluarga Islam adalah keluarhga yang menginternalisasikan nilai perjuangan. Keluarga Pejuang.
Membangun Keluarga Pejuang
Pembangunan keluarga pejuang layaknya membangun keluarga dan nilai-nilainya. Contoh adalah hal paling utama. Ketika orang tua mencontohkan maka nilai untuk berjuang akan dapat terinternalisasi dengan baik dan menjadi karakter perjuangan yang tinggi.
Keluarga Islam bukanlah keluarga yang sekadar menjadikan keluarganya nyaman, tenang, dan tentram di dunia saja melainkan keluarga yang membawa anggotanya untuk menyongsong akhirat. Menyemangati untuk berbuat kebaikan, memilih untuk terus jujur diantara godaan korupsi, menerima nilai ulangan buruk daripada mencontek adalah bentuk bahwa keluarga tersebut membentuk keluarganya menjadi keluarga pejuang.
Didalam keluarga pejuang memang haruslah sakinah, mawaddah, warahmah hanya saja hal tersebut bukanlah goal setting dalam keluarga. Sakinah, mawaddah, warahmah adalah kondisi yang muncul karena setiap anggota keluarga saling menghargai dan menyemangati untuk berjuang. Inilah yang memunculkan karakter pejuang, karakter bangsa yang cinta berjuang dan berani berkorban.
Referensi:
Desiningrum, Dinie Ratri. (2011), Pembentukan Karakter dan Subjective Well Being ditinjau dari Penanaman Nilai-nilai Islami dalam Pendidikan Anak dan Remaja, dalam Proceeding Seminar Pendidikan Karakter UNISSULA, Semarang, 18 Mei 2011.
Fahrurozi. 2008. Sakinah mawaddah warahmah. Dalam http://fahrurozi.wordpress.com/2008/04/20/sakinah-mawaddah-wa-rahmah/
Takariawan, Cahyadi. 2000. Pernik-Pernik Rumah Tangga Islami: Tatanan dan Peranannya dalam Kehidupan Masyarakat. Solo: Era Intermedia.



