Welcome Greeting ^^

Assalamu'alaykum ya akhiiii ya ukhtiiii
salam salam hai saudaraku
semoga Allah merahmatimu
salam salam wahai semua
semoga hidup jadi bahagia ^^

Saturday, June 25, 2011

Apostasy on Disaster Recovery Process : A Field for Muslim Psychologists (Dipresentasikan dalam Temu Ilmiah Nasional Asosiasi Psikologi Islam, Malang, 9-10 April 2011)


Apostasy on Disaster Recovery Process :  A Field for Muslim Psychologists
By :
Haening Ratna Sumiar and Sri Mulyadi
Gadjah Mada University & Diponegoro University

Abstract
Apostasy on disaster recovery process getting anxious. Many survivor on various disaster areas leave Islam after disaster. Surprisingly, Indonesian society using religious coping which is naturally used. Actually this coping is potential to protect their faith.
 This brief qualitative study was conducted to find out the modusoperandies and the reasons why there are apostasy on disaster recovery process. We was gathered data most from media, observation on reachable disaster location to reasercher and interview with significant person related to apostasy on disaster recovery process.
This result shows that the christian volunteers using many way & tool to make muslim become apostate including comics, preaches, spreading bible for free, etc. And the reasons are because of hit and run assisstance system that applied by muslim volunteers, the assisstances are uncoordinated well, lack of volunteers which specially to protect survivor’s faith, lack of donation, christians target to be 50% of Indonesian population on 2020 etc.
As muslim psychologists, with the benefit of religious coping, we supposed to be protector of muslim’s faith to Allah. Without muslim psychologists, psychological assisstance has already neglected. Disaster field must be one of muslim psychologists’s concern to protect survivor faith through religious coping to increase their life quality. This paper aim to emerge issue that threat muslims on disaster field so muslim psychologists aware with crucial problem what muslims have faced and to contribute overcome this problem by applying their knowledge and skills.

Keyword : Apostasy, disaster recovery process


I.    Introduction
Indonesia adalah negara yang fenomenal karena Indonesia berada diatas empat lempeng tektonik yang masih aktif bergerak. Tiga diantaranya adalah megatriple junction (lempeng tektonik besar), mereka adalah lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, lempeng Pasific dan sisanya adalah lempeng Filipina. Dan megatriple junction berbentuk subduksi (menunjam) (Nurhafizah, 2006).
Disekitar lokasi pertemuan keempat lempeng ini, energi terkumpul hingga lapisan bumi tak mampu menahan lagi, sehingga perlu melepaskan energi tersebut dan terjadilah gempa bumi (Nurhafizah, 2006). Pelepasan ini dapat mengakibatkan berbagai macam dampak bagi manusia seperti tsunami, kerusakan bangunan, erupsi gunung merapi, dll.
BMKG mencatat 60 gempa terjadi dengan kekuatan di atas 5 SR periode November 2010 hingga Januari 2011 (BMKG, 2011). Dapat dimengerti mengapa Maplecroft, organisasi di Inggris yang menganalisis resiko global, menempatkan Indonesia di urutan kedua setelah Bangladesh, sebagai negara yang paling beresiko terhadap ancaman cuaca ekstrim dan bencana geofisika berdasarkan penelitian pada 229 negara mengenai kerentanannya terhadap bencana alam (Maplecroft, 2010).
Hampir tiap tahun Indonesia mengalami gempa bumi besar dengan beragam jumlah korban, orang hilang dan kerusakan. Mulai dari tsunami Aceh tahun 2004, gempa Nias tahun 2005, gempa Yogyakarta & Tasikmalaya tahun 2006, gempa Padang tahun 2009, & tsunami Mentawai tahun 2010 lalu. Maka indonesia memang negara dengan resiko tinggi terjadinya bencana, terutama gempa bumi. Hal ini dikarenakan formasi lempeng tektonik di bawah Indonesia yang berbentuk subduksi. Keempat lempeng ini tercatat masih aktif bergerak. Bahkan lempeng tektonik di bawah Indonesia terkenal fenomenal sehingga banyak buku mengenai Tektonik Indonesia dengan penulis dari dalam dan luar negeri.
Seperti yang kita ketahui bahwa bencana akan meninggalkan banyak dampak, tak terkecuali dampak psikologis. Gangguan umum yang terjadi setelah bencana adalah post traumatic stress disorder (PTSD).
PTSD adalah gangguan emosional yang menyebabkan penderitaan yang secara permanen terjadi setelah menghadapi kondisi yang mengancam yang membuat individu merasa putus asa dan cemas. Korban sering merasa mengalami kembali peristiwa traumatik dan mencoba untuk menghindari stimulus yang mengingatkan serta menambah kewaspadaan & arousal. PTSD dapat didiagnosis paling tidak sebulan setelah peristiwa traumatik terjadi.PTSD dibagi menjadi akut & kronis. PTSD akut dapat terdiagnosis pada 1 hingga 3 bulan setelah peristiwa terjadi. Jika PTSD masih berlanjut hingga lebih dari 3 bulan, maka dapat dianggap sebagai PTSD kronis (Durand & Barlow, 2006, p. 201).
Simtom PTSD dikelompokkan menjadi 3 kategori (Kring, Ann M., 2007, p.129):
1.      Mengalami kembali peristiwa traumatik. Koran sering teringat peristiwa traumatik atau bermimpi buruk mengenai peristiwa tersebut. Korban merasa sangat tertekan ketika teringat peristiwa traumatik. Misalnya suara helikopter mengingatkan veteran perang mengenai peperangan atau kegelapan mengingatkan seorang korban pemerkosaan saat kejadian.
2.      Menghindari stimulus yang berasosiasi dengan kejadian. Beberapa orang bahkan berusaha menghindari semua pengingat kejadian traumatik (McNally,2003b; Kring, 2007). Misalnya anak korban tsunami Aceh tidak mau mandi dan mulai takut ketika hujan turun. Beberapa orang juga menghindari memikirkan tentang trauma; beberapa orang mengingat potongan kejadian yang tak beraturan. Kekakuan mengacu pada berkurangnya ketertarikan pada orang lain, ingin memisahkan diri dengan orang lain dan ketidakmampuan merasakan gejala positif.
3.      Simtom bertambahnya arousal. Simtom ini meliputi sulit tidur atau tidur berlebihan, sulit berkonsentrasi, terlalu waspada, dan respon kaget yang berlebihan (Kring, 2007).
WHO telah mengumumkan bahwa bantuan psikologis adalah hal yang penting. WHO menghimbau kepada negara yang mengalami bencana untuk memberikan pelayanan kesehatan mental. Orang dengan gangguan mental membutuhkan akses ke pelayanan kesehatan mental. Ini adalah tugas WHO untuk bekerjasama dengan pemerintah untuk menyediakan pelayanan ini (WHO, 2005).
Dari gambaran diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa bantuan psikologi adalah hal yang penting untuk menjadi perhatian, meski secara umum bantuan fisik adalah perhatian utama. Yang harus dipahami adalah PTSD dapat didiagnosis atau muncul umumnya beberapa bulan atau tahun atau bahkan dekade setelah peristiwa traumatik. Sehingga bantuan psikologis bukan hanya bantuan yang diberikan ketika bencana namun sebuah bantuan yang berkelanjutan, dan ini bukan hal mudah untuk dilakukan.
Namun ada fenomena menarik yang menunjukkan ketahanan psikologis rakyat Indonesia dalam menghadapi bencana. Seorang kopral marinir AS bertugas membantu korban gempa di Bantul, Yogyakarta. Dia menyaksikan rakyat mengalami penderitaan dahsyat, kehilangan harta dan kerabat. Tetapi ternyata, banyak di antara mereka menunjukkan ketahanan diri yang amat luar biasa. Rakyat kecil yang tengah menderita itu amat tabah dan tetap optimistis. Mereka masih mampu tersenyum, menunjukkan keramahan, saling membantu di antara sesama korban. Dibandingkannya sikap mereka dengan sikap penduduk negara bagian Lousiana, kampung halamannya, yang mengalami topan Kristina, yang menurutnya tidak ramah dan "cengeng". Sikap positif itu amat memesona sehingga sang marinir membuat tulisan di kompas (4/8/2006) untuk mengungkapkan kekagumannya. Apa yang membuat rakyat kecil yang penuh penderitaan itu bisa begitu tabah menghadapi cobaan? (Wahid, 2006)
Seperti yang kita ketahui bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang relijius. Ketika menghadapi bencana, mereka akan makin mendekatkan diri kepada Yang Maha Pencipta. Bencana digunakan sebagai ajang bagi manusia untuk makin memantapkan hati mengenai KebesaranNya dan KeagunganNya. Pada penelitian Amawidayati & Muhana (2007) pada korban gempa Yogyakarta, terungkap bahwa relijiusitas inilah yang menyebabkan masyarakat Indonesia memiliki ketahanan psikologis dan psychological well-being yang lebih tinggi. Dalam penelitian Neneng (2009) pada korban gempa di Padang pun mengungkapkan hasil yang tak jauh berbeda.  Korban bencana memaknai bencana sebagai teguran dari Allah, sebagai ujian dan semuanya terjadi karena kehendak Allah. Hikmah dari bencana ini mereka dapat lebih meningkatkan ketaqwaan kepada Allah, memunculkan sikap positif membantu sesama dan meningkatkan rasa kekeluargaan.
Rasanya semua begitu indah. Namun ada beberapa hal yang perlu kita tilik, fenomena dibalik hal indah ini, yaitu pemurtadan pasca bencana. Nampaknya ada yang menganggap bencana ini sebagai suatu rahmat untuk lebih banyak “menunjuki jalan bagi domba-domba yang tersesat”. Data Kementrian Agama pasca gempa Yogyakarta, 5000 muslim murtad di Yogyakarta. Apakah yang melatar belakanginya? Mengapa hal ini bisa terjadi pada Indonesia yang merupakan negara yang relijius?
Penelitian kualitatif sederhana ini berusaha mencaritahu hal-hal yang menyebabkan terjadinya pemurtadan di daerah bencana dan metode atau modus operandi para misionaris.

II.  Method
Kami melakukan studi kualitatif singkat dan sederhana melalui observasi di daerah yang mampu kami jangkau, wawancara dengan orang yang terkait dan saksi tindakan pemurtadan, juga dengan bantuan media.
Daerah observasi kami adalah daerah Cangkringan, Merapi yang baru erupsi bulan Oktober 2010 lalu dan daerah Magelang yang termasuk wilayah yang terkena ekses Merapi. Sedangkan untuk wawancara, kami mewawancari warga di tempat kami melakukan observasi dan significant person yang tahu betul tindakan kristenisasi pasca bencana.

III.   Result
Wawancara dengan ustadz Jazir (Aktivis anti-pemurtadan)
Ada 3 hal yang membedakan kita dengan misionaris. Pertama, koordinasi bantuan dari umat Islam kalah strategi jika dibandingkan dengan misionaris. Ketika bencana datang, mereka langsung tanggap karena sudah memiliki lembaga profesional yang mengurusi bantuan. Sedangkan kita baru mengumpulkan. Sehingga korban sudah diurus duluan oleh para misionaris. Hal ini juga berdampak pada pengelolaan keuangan untuk pemberian bantuan. Mereka sudah memiliki pos dana tersendiri khusus untuk bantuan ketika bencana terjadi. Kedua, mereka tidak menikah, sehingga hidup bebas dan bisa menetap didaerah  bencana. Ketika mereka menetap maka pembinaan akan lebih massif dan intensif ketimbang yang muslim. Karena yang muslim memiliki keluarga & harus pulang memenuhi hak keluarga. Ketiga, bantuan mereka sustainable, tidak hanya “bernafas” hingga tanggap darurat saja. Mereka terus melakukan assessment bahkan setelah masa tanggap darurat selesai. Mereka terus memberikan apa yang warga butuhkan, baik itu air bersih atau mata pencaharian, dsb. Hal ini berkaitan dengan pengelolaan dana diatas. Sehingga mereka terus dapat memberikan bantuan meskipun masa tanggap darurat sudah selesai.
Berdasarkan misi jangka panjang yang dicanangkan sejak tahun 1970-an, bahwa 50 tahun kedepan (tahun 2020) antara muslim dan nasrani 50%-50%. Maka mereka membuat program dan langkah-langkah jangka panjang untuk mencapai tujuan. Ada 5 langkah kristenisasi yang dilakukan oleh misionaris untuk mencapai misi mereka, yaitu :
1.      Pendidikan
Dibangun sekolah-sekolah nasrani di pinggiran kota yang belum ada sekolah disekitarnya. Lalu setelah sekolah diberi pelajaran Agama Kristen/Katholik tanpa diberi mata pelajaran agama non Kristen/Katholik. Sehingga akidah anak terkotori. Ada pula beasiswa yang diberikan pada keluarga yang kurang mampu. Tapi syaratnya harus pindah agama.
2.      Perkawinan
Hal ini bukanlah hal yang aneh dalam kehidupan kita bermasyarakat. Pemuda/pemudi nasrani memacari atau menikahi lawan jenisnya yang muslim lalu kian lama ditarik kedalam agama nasrani. Kalaupun pasangannya tidak mau pindah agama, maka anak-anaknya yang dibawa ke agama nasrani. Hal lain yang dilakukan adalah menghamili pacarnya yang muslimah, lalu dinikahi tapi diminta untuk berpindah agama ke nasrani dahulu.
3.      Ekonomi
Bantuan pasca bencana adalah salah satunya. Salah satu dampak bencana adalah hilangnya mata pencaharian sehingga mereka membantu bibit ketika korban adalah petani atau membantu mengajarkan ketrampilan bagi korban bencana yang menderita cacat permanen.
4.      Hukum
Ketika zaman penjajahan Belanda, dari sisi hukum, orang-orang yang beragama kristen disejajarkan dengan orang Eropa. Kalo mereka yang beragama Islam, Bumiputera, paling rendah. Orang timur asing seperti India, arab, china itu di tengah. Maka banyak china itu kemudian yang pindah kristen karena ingin mendapat status hukum sederajat dengan orang Eropa. Padahal islam dulu masuk ke Indonesia dibawa oleh pedagang dari china. Tapi kemudian cina itu mayoritas non muslim karena sistem hukumnya. Ini sistem hukun Indonesia ketika zaman Hindia Belanda dulu. Sekarang orang-orang keturunan china nasrani karena keluarga mereka dulu sudah konversi ke kristen sehingga hingga sekarang masih tetap kristen.
5.      Budaya
Budaya dalam masyarakat tradisional pun dikristenkan. Misalnya wayang wahyu yang menceritakan mengenai pembawa risalah nasrani. Padahal dulu wayang dibawa oleh para wali untuk membawa Islam. Atau budaya tahlilan katholik, shalawatan katholik, hadroh katholik, dsb. Wiwit panen pun diberkati dengan doa-doa pada tuhan yesus. Korban dari jalur budaya adalah masyarakat pinggiran atau pelosok yang akses ke kota kurang sehingga akses untuk mendapatkan pengetahuan agama pun kurang dan masih menjunjung tinggi budaya. Maka lebih mudah disetir dan dimurtadkan.

Observasi di Cangkringan, Merapi
Terdapat banyak stiker di rumah darurat warga yang baru dibangun bertuliskan “PEMULIHAN EKONOMI MASYARAKAT PASCA ERUPSI MERAPI  YOGYAKARTA 2010 ; CATHOLIC RELIEF SERVICES”. Padahal rumah darurat itu baru dibangun 1 bulan yang lalu. Berarti stiker ini masih baru. Dari tampilannya pun masih bagus. 

Picture 1. Stiker dari lembaga Katholik

Lalu adanya tandon air kapasitas 10.000 liter sumbangan dari gereja yang bertuliskan “SUMBANGAN GEREJA YESUS KRISTUS ; ORANG-ORANG SUCI ZAMAN AKHIR”

Picture 2. Tandon sumbangan Gereja Yesus Kristus, “Orang-orang suci zaman akhir”
Memang menunjukkan bantuan yang berkelanjutan dan assessment kebutuhan yang mantap. Mereka paham bahwa warga kesulitan air bersih karena sungai terlalui banjir lahar. Dan mereka memberikan tandon yang terbesar yang langka dijual. Dan ironisnya ibu-ibu yang mengenakan mukena membungkuk dibawah tandon ini untuk berwudhu.

Wawancara dengan warga
Bantuan dari gereja memang datang. Ada bantuan beberapa kali. Sayangnya kami tidak bisa melakukan observasi di daerah mayoritas murtadin. Karena ketika kami melakukan observasi, jembatan yang menhubungkan antardesa di pegunungan daerah Magelang terputus, sehingga kami hanya bisa melakukan observasi di daerah yang semuanya masih muslim namun merasakan gerakan misionaris.
Para misionaris memberikan bantuan dengan cara yang tidak wajar di Kalitengah, Cangkringan. Warga merasa aneh mengapa pemberian bantuan mengharuskan semua anggota keluarga (bapak, ibu & anak-anak) pergi mengambilnya. Padahal satu anggota keluarga saja cukup. Dari kekhawatiran ini pada forum ibu-ibu PKK diingatkan agar jangan hanya karena bantuan yang hanya seberapa lalu iman kita tergadaikan.
Pada dusun Batur, Magelang pun, warga diberi bantuan. Mereka menerima bantuan tersebut, namun tidak mau datang ketika gereja mengundang acara kegiatan. Namun dari hasil observasi mushola penuh bahkan hingga pelataran ketika pengajian diadakan padahal saat itu hujan deras.

Sumber Media
Ustadz Bernard Abdul Jabbar (mantan pendeta yang kini bergabung dalam Dewan Da’wah Bekasi) menceritakan pengalamannya, bagaimana ratusan anak-anak Aceh korban tsunami dimurtadkan. Anak-anak itu diambil dari Aceh, dibawa ke Malang, Sukabumi dan Salatiga untuk di didik menjadi pendeta. Pada bencana Mentawai, menurut Bernard, Paus Bennecdictus XVI memerintahkan seluruh potensi Kristen di dunia untuk membantu semaksimal mungkin korban gempa-tsunami Mentawai. (Suara Islam Online, 2010).
Pada bencana erupsi Merapi daerah Magelang, sejumlah relawan non muslim membuka posko di sana. Mereka sempat mengundang anak-anak pengungsi untuk mengambil bantuan. Namun selain bantuan, anak-anak itu juga disisipi sebuah buku yang ternyata injil.
Warga sekitar yang mendapati anak-anak membawa injil meminta mereka mengembalikannya ke posko relawan non muslim. Namun Relawan Masjid Indonesia meminta injil itu dikumpulkan dan diganti dengan Al-Quran, dan terkumpullah 350 injil (eramuslim, 2010).

Picture 3 Al-Kitab yang disita RMI
Warga juga melaporkan terbersit rencana para relawan untuk membeli sejumlah lahan di dusun tersebut. Menurut warga, lahan itu akan dibangun gereja dan taman kanak-kanak. Usulan inipun ditolak mentah-mentah warga.
Modus terakhir kristenisasi ditemukan di tiga Dusun di Desa Ngadipura, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang. Tiga dusun tersebut adalah Dusun Kembar, Karang Gondang, dan Dusun Dukuh. Warga menghadiri pembagian sembako di masjid setempat. Setelah pembagian sembako, warga mengikuti program menghilangkan trauma bencana yang digelar Yayasan Citra Kasih dan Anak Nusantara Berbagi Kasih dari Jakarta dan Temanggung. Anehnya, usai mengikuti program itu warga kemudian dibagikan roti pemberkatan oleh Rohaniawan dan Relawan mereka dan diberkati atas nama tuhan mereka (ID Muslim, 2010).

IV.    Analysis
Pemurtadan pasca bencana adalah hal yang mengerikan. Adalah mereka orang-orang yang menganggap bencana sebagai berkah untuk memurtadkan banyak orang. Dari hasil olah data kami, hal yang paling mempengaruhi seseorang untuk murtad pasca bencana adalah pertama, kondisi psikologis dan iman korban yang lemah. Ketika itu korban membutuhkan pertolongan. Dalam psikologi sosial teori klasik mengenai persuasi sosial menyebutkan bahwa individu dengan self-esteem rendah lebih mudah dipersuasi oleh individu dengan self-esteem tinggi.
Kedua, watak orang Indonesia yang kurang asertif. Ketika mendapati bantuan bertubi-tubi, karena merasa sudah ditolong maka sulit untuk mengatakan tidak kepada orang yang telah menolong meskipun apa yang dipersuasikan berlawanan dengan keyakinannya.
Mengapa warga Indonesia yang terkenal relijius justru meninggalkan agamanya dan berpindah agama lain? Relijius belum tentu islami. Relijius adalah budaya dekat dengan Tuhan, namun Tuhan bisa siapa saja. Tidak mesti Allah Azza wa Jalla, bisa saja yang dimaksud adalah Nyi Roro Kidul atau Mbah Petruk, dsb.  Orang yang membakar kemenyan dimalam jumat kliwon juga relijius, karena ia percaya dengan yang gaib. Mereka yang melakukan sedekah laut juga termasuk orang-orang yang relijius. Sehingga orang yang memiliki ketahanan dari PTSD belum tentu orang yang islami, bisa saja ia percaya bahwa erupsi merapi adalah wujud Mbah Petruk yang sedang marah. Dan ia lalu membuat ritual-ritual bakar kemenyan atau bentuk ke-syirik-an yang lain.
Masih banyaknya islam KTP di Indonesia menggambarkan bahwa banyaknya jumlah bukanlah alasan seseorang itu kuat, faktor lain yang juga mempengaruhi adalah seberapa baik kualitasnya. Islam KTP ini ibaratnya seperti buih di lautan. Banyak namun lemah. Islam yang karena orang tuanya islam, tapi tak memiliki kemauan atau akses untuk memperdalam ilmu agama. Sehingga dengan mudahnya dimurtadkan.

V.      Discussion
Hasil kualitatif studi yang mengungkap beberapa cara kristenisasi pada korban bencana dipengaruhi karena korban berada pada posisi membutuhkan pertolongan yang lemah secara psikologis. Sehingga lebih rentan akan terpengaruh kristenisasi dan murtad. Tim khusus yang membentengi akidah umat amat sangat dibutuhkan.
HAI PARA PSIKOLOG MUSLIM!!! KEMANAKAH KALIAN? SEMENTARA AKIDAH UMAT MENJADI SANTAPAN! MEREKA DIBAWA MENUJU KEGELAPAN DAN TOLONG JANGAN HANYA DIAM??
Meski kalian belum menjadi psikolog atau sudah menjadi psikolog, ini tugas kita bersama. Bahwa ada ranah yang lebih riil disamping pengembangan ilmu psikologi islam. Pengaplikasian psikologi islam dalam ranah psikologi bencana. Yaitu mengisi jiwa-jiwa yang haus dengan sejuknya mata air keimanan, untuk melepaskan dahaga mereka dari ujian yang mencekik kerongkongan. Mengajarkan kepada mereka bahwa Islam adalah rahmatan li ‘alamin. Menggambarkan kepada mereka Kebesaran Allah dan menyampaikan kepada mereka firman-firmanNya yang suci. Agar mereka tak mengikuti domba-domba yang tersesat. Ada hal lain yang lebih bisa diprioritaskan, yaitu menyelamatkan orang-orang yang terombang-ambing antara surga dan neraka. Murtad adalah neraka dan Islam adalah surga insyaAllah.

وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُون

Dan Ibrahim mewasiatkan (ucapan itu) kepada anak-anaknya, demikian pula Yaqub. “Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim” (Q.S Al-Baqarah : 132)

Jika hanya ingin menyalurkan maka bisa kita terima, bahkan kita bisa bekerjasama dengan mereka. Namun yang tak bisa kita terima adalah tindakan mereka menyebarkan atau bahkan memaksakan keyakinan mereka. Paper ini hanya menggambarkan segelintir aktivitas mereka. Semoga bermanfaat. Wallahu’alam bis shawab.

VI.   Reference
Al-Quranul Karim

Amawidayati, Sukma Adi Galuh & Muhana Sofiati Utami. 2007. Religiusitas dan Psychological Well-Being Pada Korban Gempa. Jurnal Psikologi No. 2, 164-176

Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika. 60 Gempa Terkini, Magnitude > 5 SR. on http://bmkg.go.id/BMKG_Pusat/Geofisika/terkini.bmkg

Durand, V.Mark, David H.Barlow. 2006. Intisari Psikologi Abnormal  (Penterjemah : Helly Prajitno Soetjipto dan Sri Mulyantini Soetjipto). Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Era Muslim. 2010. Yayasan Kristen Bagi-bagi Injil di Pengungsian Muslim Korban Merapi. http://www.eramuslim.com/berita/info-umat/yayasan-kristen-bagi-bagi-injil-di-pengungsi-muslim-korban-merapi.htm

ID Muslim. 2010.Tangkal kristenisasi di Merapi Relawan Gelar Pengajian dan Dakwah. http://id-muslim.com/news-update/dalam-negeri/2964-tangkal-kristenisasi-di-merapi-relawan-gelar-pengajian-dan-dakwah

Kring, Ann M., Gerald C.Davidson, John M.Neale, Sheri L.Johnson. 2007. Abnormal Psychology. USA: John Wiley and Son.

Thursday, June 16, 2011

Intensive Class Psikologi Islami (KESPPI Undip)

Bismillah..
Alhamdulillah pada tanggal 2-3 April 2011 telah terlaksana Intensive Class Psikologi Islami di Fakultas Psikologi Undip. Acara ini di hadiri oleh 32 orang dengan pembicara Dr. Bagus Riyono, S.Psi. MA, seorang dosen UGM yang concern pada bidang PIO dan mendalami juga mengenai psikologi Islami. Acara ini membahas mengenai urgensi Islamisasi Ilmu Pengetahuan di tengah arus peradaban barat yang banyak membawa hal yang bertentangan dengan Islam.

Islamisasi Science
Bagus Riyono

Sebelum membahas bagaimana Islamisasi Science dilakukan, pertama-tama perlu dipahami apa yang dimaksud dengan “Islamisasi” di sini. Seperti halnya risalah Islam itu sendiri, maka Islamisasi adalah suatu usaha untuk meluruskan dan mengkoreksi sesuatu yang melenceng dari kebenaran dan atau sesuatu yang mencampuradukkan antara yang benar dengan yang tidak benar (yang haq dan yang bathil). Sesuatu yang melenceng dari kebenaran adalah suatu faham atau perspektif yang hanya didasarkan pada asumsi atau pendapat sendiri yang cacat secara logika dan tidak dapat diterima secara universal. Sedangkan sesuatu yang mencampuradukkan antara yang benar dan yang bathil dapat berupa data objektif yang disimpulkan sepihak atau data yang tidak lengkap sehingga bias terhadap opini tertentu yang dipaksakan.

Islamisasi dalam agama yang dilakukan oleh para Nabi Allah pada prinsipnya adalah mengembalikan kepercayaan manusia kepada Tauhid. Biasanya yang perlu diislamisasi adalah suatu kepercayaan yang “prularistis” dalam arti musyrik. Kemusyrikan adalah faham mengenai relativitas kebenaran, yang tidak mengakui sumber kebenaran yang tunggal, atau mengingkari atau mengabaikan posisi Allah sebagai “al Haq”. Demikian juga halnya dalam konteks Islamisasi Science. Pertanyaannya kemudian adalah, “apakah yang terjadi dengan Science, sehingga perlu diluruskan dan dikoreksi (di-Islamisasi)?” Untuk membahas permasalahan ini, akan ditelaah dua wacana mendasar yang dapat dijadikan patokan dalam usaha Islamisasi Science tersebut. Wacana pertama adalah perdebatan antara Al-Ghazali dengan Aristoteles, sedangkan wacana ke dua adalah sejarah Science sejak Al-Haytham hingga dewasa ini.

Dalam bukunya yang fenomenal Tahafut al-Falasifah, yang dapat diartikan sebagai “kerancuan pemikiran para filosof”, Al-Ghazali meruntuhkan argumentasi Aristoteles tentang teori alam semesta. Alam semesta menurut Aristoteles dipandang sebagai sesuatu yang abadi, yang berada di “samping” Allah (Tuhan) dan abadi bersama-Nya. Menurut penjelasan Stephen Hawking, pendapat Aristoteles didasarkan pada pengamatan terhadap bintang-bintang jauh yang dari waktu ke waktu menetap berada pada posisinya dan tidak berubah baik ukuran maupun lokasinya. Al-Ghazali mengkritik pandangan ini dengan mempertanyakan beberapa asumsi yang mendasari pendapat tersebut. Argumentasi yang paling pokok dalam kritik Al-Ghazali adalah mengenai asumsi tentang waktu. Pada masa Aristoteles, waktu dianggap sebagai sesuatu yang ada dengan sendirinya dan ia ada bersama dengan Tuhan. Asumsi itulah yang kemudian dibantah oleh al-Ghazali, yang mengatakan bahwa “waktu” itu sendiri adalah makhluk, yaitu sesuatu yang diciptakan Allah untuk kehidupan di alam semesta ini. Karena waktu adalah ciptaan Allah, maka waktu memiliki awal dan memiliki akhir, dengan demikian maka alam semesta juga memiliki awal dan akhir.

Argumentasi Al-Ghazali tersebut disebut-sebut sebagai usaha “Islamisasi” pertama kali yang tercatat dalam sejarah ilmu pengetahuan pada tataran filsafat. Kesalahan yang dilakukan oleh Aristoteles dan para pengikutnya adalah bahwa, konsekuensi dari pandangannya tentang keabadian alam semesta dapat berakibat pada ketidakpercayaan pada hari akhir (kiamat). Padahal percaya pada hari kiamat adalah salah satu rukun iman yang penting. Kebenaran argumentasi Al-Ghazali, yang disampaikan pada abad 11 tersebut, dibuktikan oleh penelitian Hubble yang dilakukan pada abad 20. Penelitian ini pulalah yang mendukung teori mutakhir tentang alam semesta yang dirumuskan oleh Stephen Hawking.

Bagaimana Hubble membuktikan argumentasi Al-Ghazali? Hubble adalah ahli astronomi Amerika yang menciptakan teleskop raksasa di luar angkasa, yang dapat menangkap cahaya dari bintang-bintang yang jaraknya sampai dengan jutaaan tahun cahaya. Cahaya-cahaya dari bintang-bintang jauh tersebut kemudian direkam dan diteliti melalui spektrum cahaya yang dapat memecah cahaya menjadi beberapa bagian seperti pelangi yang bergradasi mulai dari warna ungu sampai dengan merah. Perbedaan warna cahaya tersebut menunjukkan perbedaan panjang gelombang cahaya, yang dapat dipakai untuk mengukur jarak benda yang menjadi sumber cahaya tersebut dari pengamat.

Pengamatan Hubble yang berulang-ulang menunjukkan bahwa gradasi cahaya dari bintang-bintang jauh dari waktu ke waktu semakin cenderung ke merah. Hal ini menunjukkan bahwa bintang-bintang itu bergerak menjauh dari bumi. Yang lebih mengejutkan adalah bahwa gejala menjauh ini terjadi pada semua bintang yang terletak pada segala penjuru mata angin. Ini menunjukkan bahwa benda-benda di alam semesta bergerak saling menjauhi satu sama lain. Dengan kata lain alam semesta mengembang dari waktu ke waktu. Kenyataan bahwa alam semesta mengembang tersebut lalu menimbulkan pemikiran sebagai berikut: “jika jalannya waktu dibalik ke belakang maka benda-benda di alamsemesta dahulunya mestinya terkumpul jadi satu lalu bergerak saling menjauhi dan akhirnya menjadi seluas saat ini”. Awal dari berkembangnya alam semesta itu lalu disebut sebagai “The Big Bang”, yaitu ledakan besar yang menandakan dimulainya kehidupan alam semesta ini. Adapun “waktu” adalah sesuatu yang mengiringi keberadaan alam semesta tersebut, sehingga “The Big Bang” juga dapat dikatakan sebagai awal dari adanya “waktu”. Untuk menegaskan fenomena tersebut Stephen Hawking menulis buku berjudul “A Brief History of Time” yang artinya “Sebuah Sejarah Singkat dari Waktu”. Kesimpulan ini sejalan dengan argumentasi Al-Ghazali yang mengatakan bahwa “waktu” dan “alam semesta” adalah ciptaan Allah, yang ada awal dan ada akhirnya. Argumentasi Al Ghazali ini bersumber pada ayat-ayat Al Qurʼan, yang salah satunya adalah dari Surat Al Anbiya (21), ayat 30.
 
أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS 21 Al Anbiya : 30)

Hikmah yang dapat kita ambil dari “Islamisasi” yang dilakukan oleh Al-Ghazali terhadap pandangan filsafat Aristotelean tersebut adalah sebagai berikut. Pertama, Al-Ghazali sebagai seorang muslim memiliki keimanan kuat yang didasarkan pada keyakinannya pada kebenaran Al Qurʼan, yang merupakan “kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya” (QS 2 Al Baqarah: 2). Ke dua, keyakinan kuat Al-Ghazali mendorongnya untuk berpikir kritis terhadap pandangan yang tidak sesuai dengan Al Qurʼan. Ke tiga, dengan ijin Allah dan dengan kecerdasan yang dikaruniakan Allah, Al-Ghazali mengemukakan argumentasi yang dapat menandingi argumentasi Aristoteles dan bahkan meruntuhkannya, yang didasarkan pada kebenaran Al Qurʼan. Dengan demikian Al-Ghazali telah berhasil meletakkan dasar bagi ilmu pengetahuan modern tentang teori alam semesta yang benar dan lurus (sesuai dengan Al Qurʼan). Islamisasi Science yang dilakukan Al Ghazali “berlangsung” selama 9 abad, mulai dari rumusan teoritis (“Tahafut al-Falasifah”, abad 11) sampai denganpembuktian empiris oleh Hubble (abad 20).

Dengan mengambil hikmah dari wacana Al-Ghazali tersebut maka Islamisasi dalam ilmu Psikologi paling tidak membutuhkan empat prasyarat atau disiplin yang harus kita tunjukkan dan usahakan. Pertama, kita gunakan Al Qurʼan sebagai referensi pertama dan utama kita. Kedua, kita kritisi segala teori psikologi yang tidak berasal dari Al Qurʼan untuk meluruskannya agar tidak bertentangan dengan Al Qurʼan, dengan menemukan dan mengkoreksi kesalahan-kesalahan teori-teori tersebut. Ketiga, kita gunakan kecerdasan kita, sebagai karunia Allah, untuk menyusun argumentasi yang logis dengan paradigma Al Qurʼan tentang fenomena-fenomena psikologis dalam kehidupan kita. Keempat, kita aplikasikan metode ilmiah untuk menguji argumentasi kita yang tujuannya untuk mencari kebenaran, bukannya untuk mendukung argumentasi kita, ataupun untuk mencari pengakuan dari masyarakat ilmiah yang ada. Metode ilmiah yang dimaksud di sini perlu kita kritisi lebih lanjut, karena dewasa ini telah terjadi “korupsi” makna dan perspektif dalam metode ilmiah. Ini kita sebut sebagai Islamisasi Science bagian ke dua.

Dalam Islamisasi Science bagian ke dua, kita akan membahas tentang sejarah metode ilmiah, mulai dari ditemukannya metode ilmiah oleh Ibn al-Haytham sampai dengan bagaimana kaum sekuler telah “mengkorupsi” atau mereduksi metode ilmiah ini menjadi suatu disiplin ilmu pengetahuan yang mengingkari Tuhan. Sejarah metode ilmiah bermula pada abad ke 8, bahkan lebih dahulu dari era Al-Ghazali, yaitu pada masa Ibn al-Haytham. Al-Haytham adalah seorang cendekiawan muslim yang, seperti layaknya cendekiawan pada masa itu, memiliki keahlian dalam berbagai bidang ilmu (seorang polymath). Sebagai seorang muslim yang taat beliau resah dengan perpecahan yang terjadi pada masyarakat Islam pada waktu itu, terutama antara kaum Sunni dan Syiah. Al-Haytham yang menguasai filsafat dan ilmu fiqh berusaha untuk mendamaikan kelompok Sunni dan Syiah pada jamannya. Singkat cerita usahanya tersebut gagal. Masing-masing kelompok mengklaim bahwa pandangannya adalah yang benar, sedang pandangan yang lain adalah salah. Al-
Haytham menyimpulkan bahwa kalau kita ingin mencari kebenaran kita tidak dapat mengandalkan opini, karena opini manusia itu sangat lemah dan subjektif. Oleh karena itu kemudian beliau memikirkan suatu metode untuk mencari kebenaran yang sedapat mungkin terbebas dari opini subjektif manusia. Semangat untuk mencari kebenaran ini diyakini oleh Al-Haytham sebagai bentuk usahanya untuk mendekatkan diri pada Yang Maha Benar, Al Haq, yaitu Allah.

Pada saat Al-Haytham dipenjara oleh penguasa Mesir karena kesalahpahaman, beliau mendapat pencerahan untuk memikirkan fenomena cahaya. Apakah cahaya itu? Bagaimana sifat-sifatnya? dan bagaimana kita bisa menjelaskan fenomena penglihatan yang terkait dengan dinamika cahaya? Pada masa itu ada dua teori megenai cahaya dan penglihatan yang saling bertentangan, yaitu teori Aristoteles dan Teori Ptolemy dan Euclid.

Menurut Aristoteles, kita dapat melihat suatu benda karena esensi materi dari benda tersebut merasuk ke dalam mata kita. Dengan masuknya esensi materi dari benda tersebut, maka mata kita dapat melihat benda tersebut. Al-Haytham berpikir bahwa teori Aristoteles ini tidak dapat dibuktikan dan tidak dapat diukur. Al-Haytham adalah juga seorang ahli matematika yang memiliki keyakinan bahwa sesuatu dapat dikatakan ilmiah jika dapat diukur atau dijelaskan dengan logika matematik.

Teori ke dua, yang dikemukakan oleh Ptolemy dan Euclid, mengatakan bahwa fenomena penglihatan terjadi karena mata kita memancarkan cahaya sehingga menerangi benda yang kita lihat. Kita hanya melihat benda yang berada di depan mata kita, artinya cahaya dari mata kita berjalan lurus ke depan menyinari benda di depan mata kita sehingga kita dapat melihatnya. Sekilas nampaknya teori ini lebih meyakinkan dan sudah menggunakan penjelasan geometris (salah satu cabang dari matematika), berupa perjalanan cahaya dalam garis lurus. Namun Al-Haytham masih belum puas dengan penjelasan ini, karena jika memang mata kita memancarkan cahaya, mengapa kita merasa silau dengan cahaya terang? Selain itu bagaimana teori ini dapat menjelaskan penglihatan kita terhadap bulan yang sedemikian jauh? Apakah cahaya yang keluar dari mata kita dapat menjangkau bulan? Jika iya mengapa pada malam hari ketika kita melihat bulan, sekitar kita tetap gelap?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mendorong Al-Haytham untuk melakukan percobaan-percobaan dengan cahaya. Inilah pertama kalinya dikenal metode eksperimen dalam dunia ilmu pengetahuan. Setelah melakukan berkali-kali percobaan dengan cahaya, termasuk dengan mendesain dan menciptakan camera obscura, yaitu sebuah prototype dari mata kita, akhirnya Al-Haytham merumuskan teori cahaya yang menjadi dasar bagi ilmu fisika optik sampai dewasa ini. Teorinya menjelaskan bahwa cahaya berjalan lurus dan memantul setiap kali mengenai benda, dengan arah pantulan yang memiliki sudut tertentu sesuai dengan kemiringan permukaan benda yang memantulkannya. Ketika kita melihat suatu benda, yang terjadi adalah, pantulan cahaya dari benda tersebut masuk ke dalam mata kita melalui lubang kecil ditengah pupil mata kita. Ada benda yang menjadi sumber cahaya, seperti api dan matahari, namun kebanyakan benda hanyalah memantulkan cahaya yang berasal dari sumber cahaya tersebut, termasuk bulan. Teorinya juga menjelaskan bahwa cahaya akan berbelok atau mengalami refraksi, ketika melewati air atau benda lain yang memiliki kepadatan tertentu. Al-Haytham dengan teori refraksi cahayanya juga menjelaskan fenomena cahaya senja dan cahaya fajar, yaitu fenomena ketika langit terang walaupun matahari belum terbit atau sudah terbenam di bawah cakrawala.
 
Dalam bab terakhir dari bukunya “Kitab al-Manazir” (Book of Optics), buku pertama yang melaporkan penelitian eksperimental dengan penjelasan yang sangat detil, Al Haytham menuliskan sebuah pesan yang sangat penting bagi prinsip dan hakekat “science” sampai dengan saat ini. Pesan tersebut kurang lebih berbunyi sebagai berikut: 

“Jangan Anda percaya pada kesimpulan saya mengenai teori cahaya ini. Silahkan Anda buktikan sendiri dengan melakukan eksperimen seperti yang sudah saya jelaskan secara detil di dalam buku ini!”

Sampai saat ini kita menjadi saksi atas kebenaran teori cahaya dari Al-Haytham tersebut. Teorinya mengenai refraksi telah mengilhami Isaac Newton dalam merumuskan teori tentang spektrum cahaya, yang di kemudian hari digunakan oleh Hubble sebagai metode untuk mengukur jarak bintang-bintang di alam semesta. Metode penelitian yang dilakukan Al-Haytham telah menjadi tonggak sejarah sebagai metode ilmiah yang pertama kali, sehingga Al-Haytham diberi julukan sebagai “The First Scientist”. Apa yang mendorong Al Haytham untuk menemukan metode ilmiah ini? Beliau menulis dalam autobiografinya, sebagai berikut:
 
“Saya terus-menerus mencari ilmu pengetahuan dan kebenaran, dan akhirnya menjadi keyakinan saya bahwa untuk dapat mendekatkan diri pada Allah, tidak ada jalan yang lebih baik kecuali dengan terus mencari ilmu dan kebenaran.” 

Demikianlah sejarah penemuan metode ilmiah (Science) yang berasal dari semangat seorang Muslim untuk mendekatkan diri pada Allah. Dan demikianlah seharusnya metode ilmiah yang sesuai dengan ajaran Islam. Namun mengapa sekarang orang sering mempertentangkan ilmu dan agama? Mengapa orang beranggapan bahwa metode ilmiah tidak dapat dicampuradukkan dengan keyakinan agama? Mengapa umat Islam sendiri banyak yang “alergi” dengan metode ilmiah? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu dapat dijelaskan melalui sejarah peradaban bangsa Barat, yang dewasa ini menguasai kehidupan dunia secara hegemonik.

Bangsa Eropa yang pada masa Al-Haytham berada dalam Jaman Kegelapan mendapatkan akses kepada ilmu pengetahuan melalui Perang Salib. Tokoh-tokoh cendekiawan bangsa Eropa, seperti Roger Bacon dari Inggris misalnya, belajar dari Al-Haytham, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al-Ghazali dan sebagainya, kemudian menulis buku-buku mengenai ilmu pengetahuan dalam bahasa mereka. Namun karena hubungan antara bangsa Eropa dan peradaban Islam pada waktu itu dalam kondisi bermusuhan, maka mereka tidak mencantumkan sumber-sumber bacaan mereka yang notabene berasal dari “musuh”. Bahkan nama-nama Arab para cendekiawan Muslim disamarkan dengan nama Latin, misalnya Al-Haytham diganti menjadi Alhazen, Ibn Sina menjadi Avicenna, Ibn Rusyd menjadi Averroes, dan Al-Ghazali menjadi Algazel.
 
Pencerahan dari para cendekiawan yang dapat dikatakan sebagai “plagiat-plagiat“ tersebut kemudian mendorong gerakan Renaissance, yang menjadi awal dari kebangkitan peradaban Barat-Eropa. Di samping itu, gerakan Renaissance juga bersamaan dengan gerakan sekulerisme yang memisahkan diri dari kekuasaan gereja sebagai representasi dari agama. Gerakan sekulerisme ini beranggapan bahwa kebenaran ilmiah adalah kebenaran yang terpisah dari dogma-dogma agama. Sebagai konsekuensinya para penganut sekulerisme kemudian cenderung untuk mengingkari Tuhan, atau paling tidak menjauhkan diri dari Tuhan dengan anggapan bahwa manusia dapat mengurusi dirinya sendiri tanpa campur tangan Tuhan. Dengan semangat tersebut kaum sekuler menggunakan science sebagai “senjata” untuk “menguasai dunia”, tidak lagi sebagai jalan untuk mendekatkan diri pada Allah. Kesombongan mereka tersebut mewujudkan diri dalam bentuk penjajahan atas bangsa-bangsa Timur yang berhasil mereka taklukkan, melalui kekuatan persenjataan dan science yang telah disalahgunakan menjadi “senjata pemunah massal”.
 
Generasi berikut dari negara-negara terjajah tersebut akhirnya belajar ilmu pengetahuan (Science) dari para penjajah yang telah mendistorsi semangat dan prinsip-prinsipnya. Science menjadi alat untuk “menguasai alam semesta”, tidak lagi sebagai jalan suci untuk mendekatkan diri pada Allah melalui penghayatan terhadap ayat-ayat Allah yang bertebaran di alam semesta. “Korupsi” terhadap science inilah yang perlu dikoreksi. Islamisasi science adalah mengembalikan science sebagai jalan suci untuk mencari kebenaran. Untuk dapat melakukan Islamisasi science, kita harus membersihkan niat kita dan memulai penjelajahan ilmiah kita dari inspirasi Al Qurʼan. Islamisasi science berarti kita kembali pada semangat asal science dengan mewarisi semangat Tauhid Al-Haytham, the first scientist.

Wallahu'alam. Semoga bermanfaat


Wednesday, June 15, 2011

Untukmu Kader Psikologi Islam

Bismillah
Dari sebuah kajian yang saya datangi di Darush Shalihat dengan pembicara Ustadz Syatori Abdur Rauf...
Beliau mengatakan "Mengeluh adalah tanda jiwa yang terbelenggu"
Kata-kata yang singkat, mudah diingat dan mendalam
Kata-kata yang mengajari kita mengenai arti dari sebuah keikhlasan dan menghadirkan hati dalam setiap aktivitas hidup kita
Apapun yang kita lakukan dengan keluhan pasti akan terasa berat meskipun itu sesuatu yang amat sangat ringan
Atau kita bicara dengan pandangan psikologi kognitif, bahwa stereotype (atau prasangka) kita terhadap apa yang kita hadapi akan mempengaruhi kita ketika kita menyelesaikan masalah. Stereotype negatif terhadap sesuatu membuat performansi kita ketika melakukan amanah akan buruk (mungkin bisa disamakan dengan pesimistis/su'udzon) dan stereotype positif terhadap sesuatu membuat performansi kita melakukan amanah menjadi lebih baik (dapat disamakan dengan optimisme/husnudzon). This is scientifically approved lhooooooo... ^^
Contoh mudah, dimintai tolong ibu.. ketika beliau mengatakan "dek, tolong ambilkan minum di dapur"
actually it's pretty easy to be done
tapi jika perasaan ikhlas belum menyelimuti hati kita, melangkahkan kaki atau sekedar berubah posisi dari posisi awal kita saja terasa berat.

Seperti itulah dakwah.. dakwah adalah cinta yang akan meminta semuanya darimu.. pikiranmu, perhatianmu, berjalanmu, duduk dan tidurmu (Ust. Rahmat Abdullah). Tidakkah ketika kita mencintai seseorang atau sesuatu, kita mencintai dengan ikhlas? Tak ada rasa berat melakukan pengorbanan seberat apapun bagi yang kita cintai.
Hadirkan hatimu disini, ikhlaskan hatimu menjalaninya, tak ada hasil besar dari sesuatu yang dilakukan dengan terpaksa. Hasil yang magnificent hanya dapat dicapai dengan keikhlasan. Seperti halnya Muhammad SAW yang berdakwah selama 23 tahun dengan ikhlas, dan ia dapat mengubah dunia. Semua kerja dakwahnya bermuara pada satu hal, yaitu cinta. Cinta pada Allah dan umatnya. Dari cinta itulah mengalir mata air kebajikan, membingkai hati dengan keikhlasan dalam menjalankan amanah dan menghadirkan hati dalam amalnya. Mungkin kita bisa mempelajari itu dari beliau. Lakukan itu bukan untuk mas'ulmu, bukan untuk stafmu.Lakukanlah karena Allah, ummat & kasih sayangmu terhadap dirimu sendiri, mungkin amalan itulah yang akan memberatkan timbangan amalmu untuk ke surga atau bisa saja menahanmu dari memasukinya.

jika kau merasa belum mencintai dakwah ini.. maka belajarlah. Karena, as Ust. Salim A. Fillah said, mencintai adalah sebuah kata kerja ^^

Wallahu'alam

Grand Opening ^^/

Assalamu'alaykum teman-teman islamic psychology lovers ^^ hahay
Akhirnya terbitlah terang setelah gelap..
Dan terangnya karena terbuka jendela informasi untuk mensyi'arkan kepada dunia apa yang akan terjadi dengan kelompok studi psikologi Islam wilayah jogja jateng (it needs a lot of work you know)

Pertama.. kita publikasikan dulu IPLF UGM akan mengadakan acara.. check this poster...
info lebih lanjut silakan hubungi CP yang tertulis di bagian paling atas poster



Bagi Kelompok Studi Psikologi Islam yang tergabung dalam IMAMUPSI, silahkan kontak admin (Haening) untuk publikasi or anything elses