Welcome Greeting ^^

Assalamu'alaykum ya akhiiii ya ukhtiiii
salam salam hai saudaraku
semoga Allah merahmatimu
salam salam wahai semua
semoga hidup jadi bahagia ^^

Saturday, June 25, 2011

Apostasy on Disaster Recovery Process : A Field for Muslim Psychologists (Dipresentasikan dalam Temu Ilmiah Nasional Asosiasi Psikologi Islam, Malang, 9-10 April 2011)


Apostasy on Disaster Recovery Process :  A Field for Muslim Psychologists
By :
Haening Ratna Sumiar and Sri Mulyadi
Gadjah Mada University & Diponegoro University

Abstract
Apostasy on disaster recovery process getting anxious. Many survivor on various disaster areas leave Islam after disaster. Surprisingly, Indonesian society using religious coping which is naturally used. Actually this coping is potential to protect their faith.
 This brief qualitative study was conducted to find out the modusoperandies and the reasons why there are apostasy on disaster recovery process. We was gathered data most from media, observation on reachable disaster location to reasercher and interview with significant person related to apostasy on disaster recovery process.
This result shows that the christian volunteers using many way & tool to make muslim become apostate including comics, preaches, spreading bible for free, etc. And the reasons are because of hit and run assisstance system that applied by muslim volunteers, the assisstances are uncoordinated well, lack of volunteers which specially to protect survivor’s faith, lack of donation, christians target to be 50% of Indonesian population on 2020 etc.
As muslim psychologists, with the benefit of religious coping, we supposed to be protector of muslim’s faith to Allah. Without muslim psychologists, psychological assisstance has already neglected. Disaster field must be one of muslim psychologists’s concern to protect survivor faith through religious coping to increase their life quality. This paper aim to emerge issue that threat muslims on disaster field so muslim psychologists aware with crucial problem what muslims have faced and to contribute overcome this problem by applying their knowledge and skills.

Keyword : Apostasy, disaster recovery process


I.    Introduction
Indonesia adalah negara yang fenomenal karena Indonesia berada diatas empat lempeng tektonik yang masih aktif bergerak. Tiga diantaranya adalah megatriple junction (lempeng tektonik besar), mereka adalah lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, lempeng Pasific dan sisanya adalah lempeng Filipina. Dan megatriple junction berbentuk subduksi (menunjam) (Nurhafizah, 2006).
Disekitar lokasi pertemuan keempat lempeng ini, energi terkumpul hingga lapisan bumi tak mampu menahan lagi, sehingga perlu melepaskan energi tersebut dan terjadilah gempa bumi (Nurhafizah, 2006). Pelepasan ini dapat mengakibatkan berbagai macam dampak bagi manusia seperti tsunami, kerusakan bangunan, erupsi gunung merapi, dll.
BMKG mencatat 60 gempa terjadi dengan kekuatan di atas 5 SR periode November 2010 hingga Januari 2011 (BMKG, 2011). Dapat dimengerti mengapa Maplecroft, organisasi di Inggris yang menganalisis resiko global, menempatkan Indonesia di urutan kedua setelah Bangladesh, sebagai negara yang paling beresiko terhadap ancaman cuaca ekstrim dan bencana geofisika berdasarkan penelitian pada 229 negara mengenai kerentanannya terhadap bencana alam (Maplecroft, 2010).
Hampir tiap tahun Indonesia mengalami gempa bumi besar dengan beragam jumlah korban, orang hilang dan kerusakan. Mulai dari tsunami Aceh tahun 2004, gempa Nias tahun 2005, gempa Yogyakarta & Tasikmalaya tahun 2006, gempa Padang tahun 2009, & tsunami Mentawai tahun 2010 lalu. Maka indonesia memang negara dengan resiko tinggi terjadinya bencana, terutama gempa bumi. Hal ini dikarenakan formasi lempeng tektonik di bawah Indonesia yang berbentuk subduksi. Keempat lempeng ini tercatat masih aktif bergerak. Bahkan lempeng tektonik di bawah Indonesia terkenal fenomenal sehingga banyak buku mengenai Tektonik Indonesia dengan penulis dari dalam dan luar negeri.
Seperti yang kita ketahui bahwa bencana akan meninggalkan banyak dampak, tak terkecuali dampak psikologis. Gangguan umum yang terjadi setelah bencana adalah post traumatic stress disorder (PTSD).
PTSD adalah gangguan emosional yang menyebabkan penderitaan yang secara permanen terjadi setelah menghadapi kondisi yang mengancam yang membuat individu merasa putus asa dan cemas. Korban sering merasa mengalami kembali peristiwa traumatik dan mencoba untuk menghindari stimulus yang mengingatkan serta menambah kewaspadaan & arousal. PTSD dapat didiagnosis paling tidak sebulan setelah peristiwa traumatik terjadi.PTSD dibagi menjadi akut & kronis. PTSD akut dapat terdiagnosis pada 1 hingga 3 bulan setelah peristiwa terjadi. Jika PTSD masih berlanjut hingga lebih dari 3 bulan, maka dapat dianggap sebagai PTSD kronis (Durand & Barlow, 2006, p. 201).
Simtom PTSD dikelompokkan menjadi 3 kategori (Kring, Ann M., 2007, p.129):
1.      Mengalami kembali peristiwa traumatik. Koran sering teringat peristiwa traumatik atau bermimpi buruk mengenai peristiwa tersebut. Korban merasa sangat tertekan ketika teringat peristiwa traumatik. Misalnya suara helikopter mengingatkan veteran perang mengenai peperangan atau kegelapan mengingatkan seorang korban pemerkosaan saat kejadian.
2.      Menghindari stimulus yang berasosiasi dengan kejadian. Beberapa orang bahkan berusaha menghindari semua pengingat kejadian traumatik (McNally,2003b; Kring, 2007). Misalnya anak korban tsunami Aceh tidak mau mandi dan mulai takut ketika hujan turun. Beberapa orang juga menghindari memikirkan tentang trauma; beberapa orang mengingat potongan kejadian yang tak beraturan. Kekakuan mengacu pada berkurangnya ketertarikan pada orang lain, ingin memisahkan diri dengan orang lain dan ketidakmampuan merasakan gejala positif.
3.      Simtom bertambahnya arousal. Simtom ini meliputi sulit tidur atau tidur berlebihan, sulit berkonsentrasi, terlalu waspada, dan respon kaget yang berlebihan (Kring, 2007).
WHO telah mengumumkan bahwa bantuan psikologis adalah hal yang penting. WHO menghimbau kepada negara yang mengalami bencana untuk memberikan pelayanan kesehatan mental. Orang dengan gangguan mental membutuhkan akses ke pelayanan kesehatan mental. Ini adalah tugas WHO untuk bekerjasama dengan pemerintah untuk menyediakan pelayanan ini (WHO, 2005).
Dari gambaran diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa bantuan psikologi adalah hal yang penting untuk menjadi perhatian, meski secara umum bantuan fisik adalah perhatian utama. Yang harus dipahami adalah PTSD dapat didiagnosis atau muncul umumnya beberapa bulan atau tahun atau bahkan dekade setelah peristiwa traumatik. Sehingga bantuan psikologis bukan hanya bantuan yang diberikan ketika bencana namun sebuah bantuan yang berkelanjutan, dan ini bukan hal mudah untuk dilakukan.
Namun ada fenomena menarik yang menunjukkan ketahanan psikologis rakyat Indonesia dalam menghadapi bencana. Seorang kopral marinir AS bertugas membantu korban gempa di Bantul, Yogyakarta. Dia menyaksikan rakyat mengalami penderitaan dahsyat, kehilangan harta dan kerabat. Tetapi ternyata, banyak di antara mereka menunjukkan ketahanan diri yang amat luar biasa. Rakyat kecil yang tengah menderita itu amat tabah dan tetap optimistis. Mereka masih mampu tersenyum, menunjukkan keramahan, saling membantu di antara sesama korban. Dibandingkannya sikap mereka dengan sikap penduduk negara bagian Lousiana, kampung halamannya, yang mengalami topan Kristina, yang menurutnya tidak ramah dan "cengeng". Sikap positif itu amat memesona sehingga sang marinir membuat tulisan di kompas (4/8/2006) untuk mengungkapkan kekagumannya. Apa yang membuat rakyat kecil yang penuh penderitaan itu bisa begitu tabah menghadapi cobaan? (Wahid, 2006)
Seperti yang kita ketahui bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang relijius. Ketika menghadapi bencana, mereka akan makin mendekatkan diri kepada Yang Maha Pencipta. Bencana digunakan sebagai ajang bagi manusia untuk makin memantapkan hati mengenai KebesaranNya dan KeagunganNya. Pada penelitian Amawidayati & Muhana (2007) pada korban gempa Yogyakarta, terungkap bahwa relijiusitas inilah yang menyebabkan masyarakat Indonesia memiliki ketahanan psikologis dan psychological well-being yang lebih tinggi. Dalam penelitian Neneng (2009) pada korban gempa di Padang pun mengungkapkan hasil yang tak jauh berbeda.  Korban bencana memaknai bencana sebagai teguran dari Allah, sebagai ujian dan semuanya terjadi karena kehendak Allah. Hikmah dari bencana ini mereka dapat lebih meningkatkan ketaqwaan kepada Allah, memunculkan sikap positif membantu sesama dan meningkatkan rasa kekeluargaan.
Rasanya semua begitu indah. Namun ada beberapa hal yang perlu kita tilik, fenomena dibalik hal indah ini, yaitu pemurtadan pasca bencana. Nampaknya ada yang menganggap bencana ini sebagai suatu rahmat untuk lebih banyak “menunjuki jalan bagi domba-domba yang tersesat”. Data Kementrian Agama pasca gempa Yogyakarta, 5000 muslim murtad di Yogyakarta. Apakah yang melatar belakanginya? Mengapa hal ini bisa terjadi pada Indonesia yang merupakan negara yang relijius?
Penelitian kualitatif sederhana ini berusaha mencaritahu hal-hal yang menyebabkan terjadinya pemurtadan di daerah bencana dan metode atau modus operandi para misionaris.

II.  Method
Kami melakukan studi kualitatif singkat dan sederhana melalui observasi di daerah yang mampu kami jangkau, wawancara dengan orang yang terkait dan saksi tindakan pemurtadan, juga dengan bantuan media.
Daerah observasi kami adalah daerah Cangkringan, Merapi yang baru erupsi bulan Oktober 2010 lalu dan daerah Magelang yang termasuk wilayah yang terkena ekses Merapi. Sedangkan untuk wawancara, kami mewawancari warga di tempat kami melakukan observasi dan significant person yang tahu betul tindakan kristenisasi pasca bencana.

III.   Result
Wawancara dengan ustadz Jazir (Aktivis anti-pemurtadan)
Ada 3 hal yang membedakan kita dengan misionaris. Pertama, koordinasi bantuan dari umat Islam kalah strategi jika dibandingkan dengan misionaris. Ketika bencana datang, mereka langsung tanggap karena sudah memiliki lembaga profesional yang mengurusi bantuan. Sedangkan kita baru mengumpulkan. Sehingga korban sudah diurus duluan oleh para misionaris. Hal ini juga berdampak pada pengelolaan keuangan untuk pemberian bantuan. Mereka sudah memiliki pos dana tersendiri khusus untuk bantuan ketika bencana terjadi. Kedua, mereka tidak menikah, sehingga hidup bebas dan bisa menetap didaerah  bencana. Ketika mereka menetap maka pembinaan akan lebih massif dan intensif ketimbang yang muslim. Karena yang muslim memiliki keluarga & harus pulang memenuhi hak keluarga. Ketiga, bantuan mereka sustainable, tidak hanya “bernafas” hingga tanggap darurat saja. Mereka terus melakukan assessment bahkan setelah masa tanggap darurat selesai. Mereka terus memberikan apa yang warga butuhkan, baik itu air bersih atau mata pencaharian, dsb. Hal ini berkaitan dengan pengelolaan dana diatas. Sehingga mereka terus dapat memberikan bantuan meskipun masa tanggap darurat sudah selesai.
Berdasarkan misi jangka panjang yang dicanangkan sejak tahun 1970-an, bahwa 50 tahun kedepan (tahun 2020) antara muslim dan nasrani 50%-50%. Maka mereka membuat program dan langkah-langkah jangka panjang untuk mencapai tujuan. Ada 5 langkah kristenisasi yang dilakukan oleh misionaris untuk mencapai misi mereka, yaitu :
1.      Pendidikan
Dibangun sekolah-sekolah nasrani di pinggiran kota yang belum ada sekolah disekitarnya. Lalu setelah sekolah diberi pelajaran Agama Kristen/Katholik tanpa diberi mata pelajaran agama non Kristen/Katholik. Sehingga akidah anak terkotori. Ada pula beasiswa yang diberikan pada keluarga yang kurang mampu. Tapi syaratnya harus pindah agama.
2.      Perkawinan
Hal ini bukanlah hal yang aneh dalam kehidupan kita bermasyarakat. Pemuda/pemudi nasrani memacari atau menikahi lawan jenisnya yang muslim lalu kian lama ditarik kedalam agama nasrani. Kalaupun pasangannya tidak mau pindah agama, maka anak-anaknya yang dibawa ke agama nasrani. Hal lain yang dilakukan adalah menghamili pacarnya yang muslimah, lalu dinikahi tapi diminta untuk berpindah agama ke nasrani dahulu.
3.      Ekonomi
Bantuan pasca bencana adalah salah satunya. Salah satu dampak bencana adalah hilangnya mata pencaharian sehingga mereka membantu bibit ketika korban adalah petani atau membantu mengajarkan ketrampilan bagi korban bencana yang menderita cacat permanen.
4.      Hukum
Ketika zaman penjajahan Belanda, dari sisi hukum, orang-orang yang beragama kristen disejajarkan dengan orang Eropa. Kalo mereka yang beragama Islam, Bumiputera, paling rendah. Orang timur asing seperti India, arab, china itu di tengah. Maka banyak china itu kemudian yang pindah kristen karena ingin mendapat status hukum sederajat dengan orang Eropa. Padahal islam dulu masuk ke Indonesia dibawa oleh pedagang dari china. Tapi kemudian cina itu mayoritas non muslim karena sistem hukumnya. Ini sistem hukun Indonesia ketika zaman Hindia Belanda dulu. Sekarang orang-orang keturunan china nasrani karena keluarga mereka dulu sudah konversi ke kristen sehingga hingga sekarang masih tetap kristen.
5.      Budaya
Budaya dalam masyarakat tradisional pun dikristenkan. Misalnya wayang wahyu yang menceritakan mengenai pembawa risalah nasrani. Padahal dulu wayang dibawa oleh para wali untuk membawa Islam. Atau budaya tahlilan katholik, shalawatan katholik, hadroh katholik, dsb. Wiwit panen pun diberkati dengan doa-doa pada tuhan yesus. Korban dari jalur budaya adalah masyarakat pinggiran atau pelosok yang akses ke kota kurang sehingga akses untuk mendapatkan pengetahuan agama pun kurang dan masih menjunjung tinggi budaya. Maka lebih mudah disetir dan dimurtadkan.

Observasi di Cangkringan, Merapi
Terdapat banyak stiker di rumah darurat warga yang baru dibangun bertuliskan “PEMULIHAN EKONOMI MASYARAKAT PASCA ERUPSI MERAPI  YOGYAKARTA 2010 ; CATHOLIC RELIEF SERVICES”. Padahal rumah darurat itu baru dibangun 1 bulan yang lalu. Berarti stiker ini masih baru. Dari tampilannya pun masih bagus. 

Picture 1. Stiker dari lembaga Katholik

Lalu adanya tandon air kapasitas 10.000 liter sumbangan dari gereja yang bertuliskan “SUMBANGAN GEREJA YESUS KRISTUS ; ORANG-ORANG SUCI ZAMAN AKHIR”

Picture 2. Tandon sumbangan Gereja Yesus Kristus, “Orang-orang suci zaman akhir”
Memang menunjukkan bantuan yang berkelanjutan dan assessment kebutuhan yang mantap. Mereka paham bahwa warga kesulitan air bersih karena sungai terlalui banjir lahar. Dan mereka memberikan tandon yang terbesar yang langka dijual. Dan ironisnya ibu-ibu yang mengenakan mukena membungkuk dibawah tandon ini untuk berwudhu.

Wawancara dengan warga
Bantuan dari gereja memang datang. Ada bantuan beberapa kali. Sayangnya kami tidak bisa melakukan observasi di daerah mayoritas murtadin. Karena ketika kami melakukan observasi, jembatan yang menhubungkan antardesa di pegunungan daerah Magelang terputus, sehingga kami hanya bisa melakukan observasi di daerah yang semuanya masih muslim namun merasakan gerakan misionaris.
Para misionaris memberikan bantuan dengan cara yang tidak wajar di Kalitengah, Cangkringan. Warga merasa aneh mengapa pemberian bantuan mengharuskan semua anggota keluarga (bapak, ibu & anak-anak) pergi mengambilnya. Padahal satu anggota keluarga saja cukup. Dari kekhawatiran ini pada forum ibu-ibu PKK diingatkan agar jangan hanya karena bantuan yang hanya seberapa lalu iman kita tergadaikan.
Pada dusun Batur, Magelang pun, warga diberi bantuan. Mereka menerima bantuan tersebut, namun tidak mau datang ketika gereja mengundang acara kegiatan. Namun dari hasil observasi mushola penuh bahkan hingga pelataran ketika pengajian diadakan padahal saat itu hujan deras.

Sumber Media
Ustadz Bernard Abdul Jabbar (mantan pendeta yang kini bergabung dalam Dewan Da’wah Bekasi) menceritakan pengalamannya, bagaimana ratusan anak-anak Aceh korban tsunami dimurtadkan. Anak-anak itu diambil dari Aceh, dibawa ke Malang, Sukabumi dan Salatiga untuk di didik menjadi pendeta. Pada bencana Mentawai, menurut Bernard, Paus Bennecdictus XVI memerintahkan seluruh potensi Kristen di dunia untuk membantu semaksimal mungkin korban gempa-tsunami Mentawai. (Suara Islam Online, 2010).
Pada bencana erupsi Merapi daerah Magelang, sejumlah relawan non muslim membuka posko di sana. Mereka sempat mengundang anak-anak pengungsi untuk mengambil bantuan. Namun selain bantuan, anak-anak itu juga disisipi sebuah buku yang ternyata injil.
Warga sekitar yang mendapati anak-anak membawa injil meminta mereka mengembalikannya ke posko relawan non muslim. Namun Relawan Masjid Indonesia meminta injil itu dikumpulkan dan diganti dengan Al-Quran, dan terkumpullah 350 injil (eramuslim, 2010).

Picture 3 Al-Kitab yang disita RMI
Warga juga melaporkan terbersit rencana para relawan untuk membeli sejumlah lahan di dusun tersebut. Menurut warga, lahan itu akan dibangun gereja dan taman kanak-kanak. Usulan inipun ditolak mentah-mentah warga.
Modus terakhir kristenisasi ditemukan di tiga Dusun di Desa Ngadipura, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang. Tiga dusun tersebut adalah Dusun Kembar, Karang Gondang, dan Dusun Dukuh. Warga menghadiri pembagian sembako di masjid setempat. Setelah pembagian sembako, warga mengikuti program menghilangkan trauma bencana yang digelar Yayasan Citra Kasih dan Anak Nusantara Berbagi Kasih dari Jakarta dan Temanggung. Anehnya, usai mengikuti program itu warga kemudian dibagikan roti pemberkatan oleh Rohaniawan dan Relawan mereka dan diberkati atas nama tuhan mereka (ID Muslim, 2010).

IV.    Analysis
Pemurtadan pasca bencana adalah hal yang mengerikan. Adalah mereka orang-orang yang menganggap bencana sebagai berkah untuk memurtadkan banyak orang. Dari hasil olah data kami, hal yang paling mempengaruhi seseorang untuk murtad pasca bencana adalah pertama, kondisi psikologis dan iman korban yang lemah. Ketika itu korban membutuhkan pertolongan. Dalam psikologi sosial teori klasik mengenai persuasi sosial menyebutkan bahwa individu dengan self-esteem rendah lebih mudah dipersuasi oleh individu dengan self-esteem tinggi.
Kedua, watak orang Indonesia yang kurang asertif. Ketika mendapati bantuan bertubi-tubi, karena merasa sudah ditolong maka sulit untuk mengatakan tidak kepada orang yang telah menolong meskipun apa yang dipersuasikan berlawanan dengan keyakinannya.
Mengapa warga Indonesia yang terkenal relijius justru meninggalkan agamanya dan berpindah agama lain? Relijius belum tentu islami. Relijius adalah budaya dekat dengan Tuhan, namun Tuhan bisa siapa saja. Tidak mesti Allah Azza wa Jalla, bisa saja yang dimaksud adalah Nyi Roro Kidul atau Mbah Petruk, dsb.  Orang yang membakar kemenyan dimalam jumat kliwon juga relijius, karena ia percaya dengan yang gaib. Mereka yang melakukan sedekah laut juga termasuk orang-orang yang relijius. Sehingga orang yang memiliki ketahanan dari PTSD belum tentu orang yang islami, bisa saja ia percaya bahwa erupsi merapi adalah wujud Mbah Petruk yang sedang marah. Dan ia lalu membuat ritual-ritual bakar kemenyan atau bentuk ke-syirik-an yang lain.
Masih banyaknya islam KTP di Indonesia menggambarkan bahwa banyaknya jumlah bukanlah alasan seseorang itu kuat, faktor lain yang juga mempengaruhi adalah seberapa baik kualitasnya. Islam KTP ini ibaratnya seperti buih di lautan. Banyak namun lemah. Islam yang karena orang tuanya islam, tapi tak memiliki kemauan atau akses untuk memperdalam ilmu agama. Sehingga dengan mudahnya dimurtadkan.

V.      Discussion
Hasil kualitatif studi yang mengungkap beberapa cara kristenisasi pada korban bencana dipengaruhi karena korban berada pada posisi membutuhkan pertolongan yang lemah secara psikologis. Sehingga lebih rentan akan terpengaruh kristenisasi dan murtad. Tim khusus yang membentengi akidah umat amat sangat dibutuhkan.
HAI PARA PSIKOLOG MUSLIM!!! KEMANAKAH KALIAN? SEMENTARA AKIDAH UMAT MENJADI SANTAPAN! MEREKA DIBAWA MENUJU KEGELAPAN DAN TOLONG JANGAN HANYA DIAM??
Meski kalian belum menjadi psikolog atau sudah menjadi psikolog, ini tugas kita bersama. Bahwa ada ranah yang lebih riil disamping pengembangan ilmu psikologi islam. Pengaplikasian psikologi islam dalam ranah psikologi bencana. Yaitu mengisi jiwa-jiwa yang haus dengan sejuknya mata air keimanan, untuk melepaskan dahaga mereka dari ujian yang mencekik kerongkongan. Mengajarkan kepada mereka bahwa Islam adalah rahmatan li ‘alamin. Menggambarkan kepada mereka Kebesaran Allah dan menyampaikan kepada mereka firman-firmanNya yang suci. Agar mereka tak mengikuti domba-domba yang tersesat. Ada hal lain yang lebih bisa diprioritaskan, yaitu menyelamatkan orang-orang yang terombang-ambing antara surga dan neraka. Murtad adalah neraka dan Islam adalah surga insyaAllah.

وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُون

Dan Ibrahim mewasiatkan (ucapan itu) kepada anak-anaknya, demikian pula Yaqub. “Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim” (Q.S Al-Baqarah : 132)

Jika hanya ingin menyalurkan maka bisa kita terima, bahkan kita bisa bekerjasama dengan mereka. Namun yang tak bisa kita terima adalah tindakan mereka menyebarkan atau bahkan memaksakan keyakinan mereka. Paper ini hanya menggambarkan segelintir aktivitas mereka. Semoga bermanfaat. Wallahu’alam bis shawab.

VI.   Reference
Al-Quranul Karim

Amawidayati, Sukma Adi Galuh & Muhana Sofiati Utami. 2007. Religiusitas dan Psychological Well-Being Pada Korban Gempa. Jurnal Psikologi No. 2, 164-176

Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika. 60 Gempa Terkini, Magnitude > 5 SR. on http://bmkg.go.id/BMKG_Pusat/Geofisika/terkini.bmkg

Durand, V.Mark, David H.Barlow. 2006. Intisari Psikologi Abnormal  (Penterjemah : Helly Prajitno Soetjipto dan Sri Mulyantini Soetjipto). Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Era Muslim. 2010. Yayasan Kristen Bagi-bagi Injil di Pengungsian Muslim Korban Merapi. http://www.eramuslim.com/berita/info-umat/yayasan-kristen-bagi-bagi-injil-di-pengungsi-muslim-korban-merapi.htm

ID Muslim. 2010.Tangkal kristenisasi di Merapi Relawan Gelar Pengajian dan Dakwah. http://id-muslim.com/news-update/dalam-negeri/2964-tangkal-kristenisasi-di-merapi-relawan-gelar-pengajian-dan-dakwah

Kring, Ann M., Gerald C.Davidson, John M.Neale, Sheri L.Johnson. 2007. Abnormal Psychology. USA: John Wiley and Son.

No comments:

Post a Comment