Alhamdulillah pada tanggal 2-3 April 2011 telah terlaksana Intensive Class Psikologi Islami di Fakultas Psikologi Undip. Acara ini di hadiri oleh 32 orang dengan pembicara Dr. Bagus Riyono, S.Psi. MA, seorang dosen UGM yang concern pada bidang PIO dan mendalami juga mengenai psikologi Islami. Acara ini membahas mengenai urgensi Islamisasi Ilmu Pengetahuan di tengah arus peradaban barat yang banyak membawa hal yang bertentangan dengan Islam.
Islamisasi Science
Bagus Riyono
Bagus Riyono
Sebelum membahas bagaimana Islamisasi Science dilakukan, pertama-tama perlu dipahami apa yang dimaksud dengan “Islamisasi” di sini. Seperti halnya risalah Islam itu sendiri, maka Islamisasi adalah suatu usaha untuk meluruskan dan mengkoreksi sesuatu yang melenceng dari kebenaran dan atau sesuatu yang mencampuradukkan antara yang benar dengan yang tidak benar (yang haq dan yang bathil). Sesuatu yang melenceng dari kebenaran adalah suatu faham atau perspektif yang hanya didasarkan pada asumsi atau pendapat sendiri yang cacat secara logika dan tidak dapat diterima secara universal. Sedangkan sesuatu yang mencampuradukkan antara yang benar dan yang bathil dapat berupa data objektif yang disimpulkan sepihak atau data yang tidak lengkap sehingga bias terhadap opini tertentu yang dipaksakan.
Islamisasi dalam agama yang dilakukan oleh para Nabi Allah pada prinsipnya adalah mengembalikan kepercayaan manusia kepada Tauhid. Biasanya yang perlu diislamisasi adalah suatu kepercayaan yang “prularistis” dalam arti musyrik. Kemusyrikan adalah faham mengenai relativitas kebenaran, yang tidak mengakui sumber kebenaran yang tunggal, atau mengingkari atau mengabaikan posisi Allah sebagai “al Haq”. Demikian juga halnya dalam konteks Islamisasi Science. Pertanyaannya kemudian adalah, “apakah yang terjadi dengan Science, sehingga perlu diluruskan dan dikoreksi (di-Islamisasi)?” Untuk membahas permasalahan ini, akan ditelaah dua wacana mendasar yang dapat dijadikan patokan dalam usaha Islamisasi Science tersebut. Wacana pertama adalah perdebatan antara Al-Ghazali dengan Aristoteles, sedangkan wacana ke dua adalah sejarah Science sejak Al-Haytham hingga dewasa ini.
Dalam bukunya yang fenomenal Tahafut al-Falasifah, yang dapat diartikan sebagai “kerancuan pemikiran para filosof”, Al-Ghazali meruntuhkan argumentasi Aristoteles tentang teori alam semesta. Alam semesta menurut Aristoteles dipandang sebagai sesuatu yang abadi, yang berada di “samping” Allah (Tuhan) dan abadi bersama-Nya. Menurut penjelasan Stephen Hawking, pendapat Aristoteles didasarkan pada pengamatan terhadap bintang-bintang jauh yang dari waktu ke waktu menetap berada pada posisinya dan tidak berubah baik ukuran maupun lokasinya. Al-Ghazali mengkritik pandangan ini dengan mempertanyakan beberapa asumsi yang mendasari pendapat tersebut. Argumentasi yang paling pokok dalam kritik Al-Ghazali adalah mengenai asumsi tentang waktu. Pada masa Aristoteles, waktu dianggap sebagai sesuatu yang ada dengan sendirinya dan ia ada bersama dengan Tuhan. Asumsi itulah yang kemudian dibantah oleh al-Ghazali, yang mengatakan bahwa “waktu” itu sendiri adalah makhluk, yaitu sesuatu yang diciptakan Allah untuk kehidupan di alam semesta ini. Karena waktu adalah ciptaan Allah, maka waktu memiliki awal dan memiliki akhir, dengan demikian maka alam semesta juga memiliki awal dan akhir.
Argumentasi Al-Ghazali tersebut disebut-sebut sebagai usaha “Islamisasi” pertama kali yang tercatat dalam sejarah ilmu pengetahuan pada tataran filsafat. Kesalahan yang dilakukan oleh Aristoteles dan para pengikutnya adalah bahwa, konsekuensi dari pandangannya tentang keabadian alam semesta dapat berakibat pada ketidakpercayaan pada hari akhir (kiamat). Padahal percaya pada hari kiamat adalah salah satu rukun iman yang penting. Kebenaran argumentasi Al-Ghazali, yang disampaikan pada abad 11 tersebut, dibuktikan oleh penelitian Hubble yang dilakukan pada abad 20. Penelitian ini pulalah yang mendukung teori mutakhir tentang alam semesta yang dirumuskan oleh Stephen Hawking.
Bagaimana Hubble membuktikan argumentasi Al-Ghazali? Hubble adalah ahli astronomi Amerika yang menciptakan teleskop raksasa di luar angkasa, yang dapat menangkap cahaya dari bintang-bintang yang jaraknya sampai dengan jutaaan tahun cahaya. Cahaya-cahaya dari bintang-bintang jauh tersebut kemudian direkam dan diteliti melalui spektrum cahaya yang dapat memecah cahaya menjadi beberapa bagian seperti pelangi yang bergradasi mulai dari warna ungu sampai dengan merah. Perbedaan warna cahaya tersebut menunjukkan perbedaan panjang gelombang cahaya, yang dapat dipakai untuk mengukur jarak benda yang menjadi sumber cahaya tersebut dari pengamat.
Pengamatan Hubble yang berulang-ulang menunjukkan bahwa gradasi cahaya dari bintang-bintang jauh dari waktu ke waktu semakin cenderung ke merah. Hal ini menunjukkan bahwa bintang-bintang itu bergerak menjauh dari bumi. Yang lebih mengejutkan adalah bahwa gejala menjauh ini terjadi pada semua bintang yang terletak pada segala penjuru mata angin. Ini menunjukkan bahwa benda-benda di alam semesta bergerak saling menjauhi satu sama lain. Dengan kata lain alam semesta mengembang dari waktu ke waktu. Kenyataan bahwa alam semesta mengembang tersebut lalu menimbulkan pemikiran sebagai berikut: “jika jalannya waktu dibalik ke belakang maka benda-benda di alamsemesta dahulunya mestinya terkumpul jadi satu lalu bergerak saling menjauhi dan akhirnya menjadi seluas saat ini”. Awal dari berkembangnya alam semesta itu lalu disebut sebagai “The Big Bang”, yaitu ledakan besar yang menandakan dimulainya kehidupan alam semesta ini. Adapun “waktu” adalah sesuatu yang mengiringi keberadaan alam semesta tersebut, sehingga “The Big Bang” juga dapat dikatakan sebagai awal dari adanya “waktu”. Untuk menegaskan fenomena tersebut Stephen Hawking menulis buku berjudul “A Brief History of Time” yang artinya “Sebuah Sejarah Singkat dari Waktu”. Kesimpulan ini sejalan dengan argumentasi Al-Ghazali yang mengatakan bahwa “waktu” dan “alam semesta” adalah ciptaan Allah, yang ada awal dan ada akhirnya. Argumentasi Al Ghazali ini bersumber pada ayat-ayat Al Qurʼan, yang salah satunya adalah dari Surat Al Anbiya (21), ayat 30.
أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ
“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS 21 Al Anbiya : 30)
Hikmah yang dapat kita ambil dari “Islamisasi” yang dilakukan oleh Al-Ghazali terhadap pandangan filsafat Aristotelean tersebut adalah sebagai berikut. Pertama, Al-Ghazali sebagai seorang muslim memiliki keimanan kuat yang didasarkan pada keyakinannya pada kebenaran Al Qurʼan, yang merupakan “kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya” (QS 2 Al Baqarah: 2). Ke dua, keyakinan kuat Al-Ghazali mendorongnya untuk berpikir kritis terhadap pandangan yang tidak sesuai dengan Al Qurʼan. Ke tiga, dengan ijin Allah dan dengan kecerdasan yang dikaruniakan Allah, Al-Ghazali mengemukakan argumentasi yang dapat menandingi argumentasi Aristoteles dan bahkan meruntuhkannya, yang didasarkan pada kebenaran Al Qurʼan. Dengan demikian Al-Ghazali telah berhasil meletakkan dasar bagi ilmu pengetahuan modern tentang teori alam semesta yang benar dan lurus (sesuai dengan Al Qurʼan). Islamisasi Science yang dilakukan Al Ghazali “berlangsung” selama 9 abad, mulai dari rumusan teoritis (“Tahafut al-Falasifah”, abad 11) sampai denganpembuktian empiris oleh Hubble (abad 20).
Dengan mengambil hikmah dari wacana Al-Ghazali tersebut maka Islamisasi dalam ilmu Psikologi paling tidak membutuhkan empat prasyarat atau disiplin yang harus kita tunjukkan dan usahakan. Pertama, kita gunakan Al Qurʼan sebagai referensi pertama dan utama kita. Kedua, kita kritisi segala teori psikologi yang tidak berasal dari Al Qurʼan untuk meluruskannya agar tidak bertentangan dengan Al Qurʼan, dengan menemukan dan mengkoreksi kesalahan-kesalahan teori-teori tersebut. Ketiga, kita gunakan kecerdasan kita, sebagai karunia Allah, untuk menyusun argumentasi yang logis dengan paradigma Al Qurʼan tentang fenomena-fenomena psikologis dalam kehidupan kita. Keempat, kita aplikasikan metode ilmiah untuk menguji argumentasi kita yang tujuannya untuk mencari kebenaran, bukannya untuk mendukung argumentasi kita, ataupun untuk mencari pengakuan dari masyarakat ilmiah yang ada. Metode ilmiah yang dimaksud di sini perlu kita kritisi lebih lanjut, karena dewasa ini telah terjadi “korupsi” makna dan perspektif dalam metode ilmiah. Ini kita sebut sebagai Islamisasi Science bagian ke dua.
Dalam Islamisasi Science bagian ke dua, kita akan membahas tentang sejarah metode ilmiah, mulai dari ditemukannya metode ilmiah oleh Ibn al-Haytham sampai dengan bagaimana kaum sekuler telah “mengkorupsi” atau mereduksi metode ilmiah ini menjadi suatu disiplin ilmu pengetahuan yang mengingkari Tuhan. Sejarah metode ilmiah bermula pada abad ke 8, bahkan lebih dahulu dari era Al-Ghazali, yaitu pada masa Ibn al-Haytham. Al-Haytham adalah seorang cendekiawan muslim yang, seperti layaknya cendekiawan pada masa itu, memiliki keahlian dalam berbagai bidang ilmu (seorang polymath). Sebagai seorang muslim yang taat beliau resah dengan perpecahan yang terjadi pada masyarakat Islam pada waktu itu, terutama antara kaum Sunni dan Syiah. Al-Haytham yang menguasai filsafat dan ilmu fiqh berusaha untuk mendamaikan kelompok Sunni dan Syiah pada jamannya. Singkat cerita usahanya tersebut gagal. Masing-masing kelompok mengklaim bahwa pandangannya adalah yang benar, sedang pandangan yang lain adalah salah. Al-
Haytham menyimpulkan bahwa kalau kita ingin mencari kebenaran kita tidak dapat mengandalkan opini, karena opini manusia itu sangat lemah dan subjektif. Oleh karena itu kemudian beliau memikirkan suatu metode untuk mencari kebenaran yang sedapat mungkin terbebas dari opini subjektif manusia. Semangat untuk mencari kebenaran ini diyakini oleh Al-Haytham sebagai bentuk usahanya untuk mendekatkan diri pada Yang Maha Benar, Al Haq, yaitu Allah.
Pada saat Al-Haytham dipenjara oleh penguasa Mesir karena kesalahpahaman, beliau mendapat pencerahan untuk memikirkan fenomena cahaya. Apakah cahaya itu? Bagaimana sifat-sifatnya? dan bagaimana kita bisa menjelaskan fenomena penglihatan yang terkait dengan dinamika cahaya? Pada masa itu ada dua teori megenai cahaya dan penglihatan yang saling bertentangan, yaitu teori Aristoteles dan Teori Ptolemy dan Euclid.
Menurut Aristoteles, kita dapat melihat suatu benda karena esensi materi dari benda tersebut merasuk ke dalam mata kita. Dengan masuknya esensi materi dari benda tersebut, maka mata kita dapat melihat benda tersebut. Al-Haytham berpikir bahwa teori Aristoteles ini tidak dapat dibuktikan dan tidak dapat diukur. Al-Haytham adalah juga seorang ahli matematika yang memiliki keyakinan bahwa sesuatu dapat dikatakan ilmiah jika dapat diukur atau dijelaskan dengan logika matematik.
Teori ke dua, yang dikemukakan oleh Ptolemy dan Euclid, mengatakan bahwa fenomena penglihatan terjadi karena mata kita memancarkan cahaya sehingga menerangi benda yang kita lihat. Kita hanya melihat benda yang berada di depan mata kita, artinya cahaya dari mata kita berjalan lurus ke depan menyinari benda di depan mata kita sehingga kita dapat melihatnya. Sekilas nampaknya teori ini lebih meyakinkan dan sudah menggunakan penjelasan geometris (salah satu cabang dari matematika), berupa perjalanan cahaya dalam garis lurus. Namun Al-Haytham masih belum puas dengan penjelasan ini, karena jika memang mata kita memancarkan cahaya, mengapa kita merasa silau dengan cahaya terang? Selain itu bagaimana teori ini dapat menjelaskan penglihatan kita terhadap bulan yang sedemikian jauh? Apakah cahaya yang keluar dari mata kita dapat menjangkau bulan? Jika iya mengapa pada malam hari ketika kita melihat bulan, sekitar kita tetap gelap?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mendorong Al-Haytham untuk melakukan percobaan-percobaan dengan cahaya. Inilah pertama kalinya dikenal metode eksperimen dalam dunia ilmu pengetahuan. Setelah melakukan berkali-kali percobaan dengan cahaya, termasuk dengan mendesain dan menciptakan camera obscura, yaitu sebuah prototype dari mata kita, akhirnya Al-Haytham merumuskan teori cahaya yang menjadi dasar bagi ilmu fisika optik sampai dewasa ini. Teorinya menjelaskan bahwa cahaya berjalan lurus dan memantul setiap kali mengenai benda, dengan arah pantulan yang memiliki sudut tertentu sesuai dengan kemiringan permukaan benda yang memantulkannya. Ketika kita melihat suatu benda, yang terjadi adalah, pantulan cahaya dari benda tersebut masuk ke dalam mata kita melalui lubang kecil ditengah pupil mata kita. Ada benda yang menjadi sumber cahaya, seperti api dan matahari, namun kebanyakan benda hanyalah memantulkan cahaya yang berasal dari sumber cahaya tersebut, termasuk bulan. Teorinya juga menjelaskan bahwa cahaya akan berbelok atau mengalami refraksi, ketika melewati air atau benda lain yang memiliki kepadatan tertentu. Al-Haytham dengan teori refraksi cahayanya juga menjelaskan fenomena cahaya senja dan cahaya fajar, yaitu fenomena ketika langit terang walaupun matahari belum terbit atau sudah terbenam di bawah cakrawala.
Dalam bab terakhir dari bukunya “Kitab al-Manazir” (Book of Optics), buku pertama yang melaporkan penelitian eksperimental dengan penjelasan yang sangat detil, Al Haytham menuliskan sebuah pesan yang sangat penting bagi prinsip dan hakekat “science” sampai dengan saat ini. Pesan tersebut kurang lebih berbunyi sebagai berikut:
“Jangan Anda percaya pada kesimpulan saya mengenai teori cahaya ini. Silahkan Anda buktikan sendiri dengan melakukan eksperimen seperti yang sudah saya jelaskan secara detil di dalam buku ini!”
Sampai saat ini kita menjadi saksi atas kebenaran teori cahaya dari Al-Haytham tersebut. Teorinya mengenai refraksi telah mengilhami Isaac Newton dalam merumuskan teori tentang spektrum cahaya, yang di kemudian hari digunakan oleh Hubble sebagai metode untuk mengukur jarak bintang-bintang di alam semesta. Metode penelitian yang dilakukan Al-Haytham telah menjadi tonggak sejarah sebagai metode ilmiah yang pertama kali, sehingga Al-Haytham diberi julukan sebagai “The First Scientist”. Apa yang mendorong Al Haytham untuk menemukan metode ilmiah ini? Beliau menulis dalam autobiografinya, sebagai berikut:
“Saya terus-menerus mencari ilmu pengetahuan dan kebenaran, dan akhirnya menjadi keyakinan saya bahwa untuk dapat mendekatkan diri pada Allah, tidak ada jalan yang lebih baik kecuali dengan terus mencari ilmu dan kebenaran.”
Demikianlah sejarah penemuan metode ilmiah (Science) yang berasal dari semangat seorang Muslim untuk mendekatkan diri pada Allah. Dan demikianlah seharusnya metode ilmiah yang sesuai dengan ajaran Islam. Namun mengapa sekarang orang sering mempertentangkan ilmu dan agama? Mengapa orang beranggapan bahwa metode ilmiah tidak dapat dicampuradukkan dengan keyakinan agama? Mengapa umat Islam sendiri banyak yang “alergi” dengan metode ilmiah? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu dapat dijelaskan melalui sejarah peradaban bangsa Barat, yang dewasa ini menguasai kehidupan dunia secara hegemonik.
Bangsa Eropa yang pada masa Al-Haytham berada dalam Jaman Kegelapan mendapatkan akses kepada ilmu pengetahuan melalui Perang Salib. Tokoh-tokoh cendekiawan bangsa Eropa, seperti Roger Bacon dari Inggris misalnya, belajar dari Al-Haytham, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al-Ghazali dan sebagainya, kemudian menulis buku-buku mengenai ilmu pengetahuan dalam bahasa mereka. Namun karena hubungan antara bangsa Eropa dan peradaban Islam pada waktu itu dalam kondisi bermusuhan, maka mereka tidak mencantumkan sumber-sumber bacaan mereka yang notabene berasal dari “musuh”. Bahkan nama-nama Arab para cendekiawan Muslim disamarkan dengan nama Latin, misalnya Al-Haytham diganti menjadi Alhazen, Ibn Sina menjadi Avicenna, Ibn Rusyd menjadi Averroes, dan Al-Ghazali menjadi Algazel.
Bangsa Eropa yang pada masa Al-Haytham berada dalam Jaman Kegelapan mendapatkan akses kepada ilmu pengetahuan melalui Perang Salib. Tokoh-tokoh cendekiawan bangsa Eropa, seperti Roger Bacon dari Inggris misalnya, belajar dari Al-Haytham, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al-Ghazali dan sebagainya, kemudian menulis buku-buku mengenai ilmu pengetahuan dalam bahasa mereka. Namun karena hubungan antara bangsa Eropa dan peradaban Islam pada waktu itu dalam kondisi bermusuhan, maka mereka tidak mencantumkan sumber-sumber bacaan mereka yang notabene berasal dari “musuh”. Bahkan nama-nama Arab para cendekiawan Muslim disamarkan dengan nama Latin, misalnya Al-Haytham diganti menjadi Alhazen, Ibn Sina menjadi Avicenna, Ibn Rusyd menjadi Averroes, dan Al-Ghazali menjadi Algazel.
Pencerahan dari para cendekiawan yang dapat dikatakan sebagai “plagiat-plagiat“ tersebut kemudian mendorong gerakan Renaissance, yang menjadi awal dari kebangkitan peradaban Barat-Eropa. Di samping itu, gerakan Renaissance juga bersamaan dengan gerakan sekulerisme yang memisahkan diri dari kekuasaan gereja sebagai representasi dari agama. Gerakan sekulerisme ini beranggapan bahwa kebenaran ilmiah adalah kebenaran yang terpisah dari dogma-dogma agama. Sebagai konsekuensinya para penganut sekulerisme kemudian cenderung untuk mengingkari Tuhan, atau paling tidak menjauhkan diri dari Tuhan dengan anggapan bahwa manusia dapat mengurusi dirinya sendiri tanpa campur tangan Tuhan. Dengan semangat tersebut kaum sekuler menggunakan science sebagai “senjata” untuk “menguasai dunia”, tidak lagi sebagai jalan untuk mendekatkan diri pada Allah. Kesombongan mereka tersebut mewujudkan diri dalam bentuk penjajahan atas bangsa-bangsa Timur yang berhasil mereka taklukkan, melalui kekuatan persenjataan dan science yang telah disalahgunakan menjadi “senjata pemunah massal”.
Generasi berikut dari negara-negara terjajah tersebut akhirnya belajar ilmu pengetahuan (Science) dari para penjajah yang telah mendistorsi semangat dan prinsip-prinsipnya. Science menjadi alat untuk “menguasai alam semesta”, tidak lagi sebagai jalan suci untuk mendekatkan diri pada Allah melalui penghayatan terhadap ayat-ayat Allah yang bertebaran di alam semesta. “Korupsi” terhadap science inilah yang perlu dikoreksi. Islamisasi science adalah mengembalikan science sebagai jalan suci untuk mencari kebenaran. Untuk dapat melakukan Islamisasi science, kita harus membersihkan niat kita dan memulai penjelajahan ilmiah kita dari inspirasi Al Qurʼan. Islamisasi science berarti kita kembali pada semangat asal science dengan mewarisi semangat Tauhid Al-Haytham, the first scientist.
Wallahu'alam. Semoga bermanfaat

No comments:
Post a Comment